• Twitter
  • Facebook
  • Google+
  • LinkedIn
  • Flickr
  • Vimeo
  • YouTube
  • RSS
Please select your page
Selasa, 12 Desember 2017 09:28

Al Abidin goes to Singapore and Malaysia (Part 2)

Written by 
Rate this item
(0 votes)

Betapa besar niat kedua negara ini (Malaysia dan Singapura) membuat benteng perbatasan antar negara yang sangat ketat, canggih dan megah. Mungkin karena alasan keamanan negara maupun martabat bangsa di mata dunia. Paspor kami dicap di checkpoint Kantor Imigrasi, itu berarti hak kunjung kami sudah berakhir di Singapura.

Situasi benar-benar cukup menegangkan karena setiap petugas memasan gestur sangar, dingin dan setiap kita bergerombol menunggu rombongan mereka langsung mendatangi dan mengusir kami. Tampak orang-orang berjalan cepat, berlari kecil bahkan berlari cepat sebelum masuk atau setelah keluar kantor imigrasi tersebut. Hampir tidak ada seorangpun berjalan dengan santai, sambil ngobrol apalagi membeli minuman atau makanan. Suasana serupa juga hampir kami rasakan di checkpoint imigrasi malaysia.

Di hari kedua, tepatnya tanggal 1 Desember 2017 dini hari, kami tiba di hotel yang berada di tengah kota Negara Johor, Malaysia. Walau singkat, istirahat kami lumayan bisa menghimpun lagi tenaga yang sempat terkuras oleh jadwal padat di Singapura. Kali ini kami sudah tidak lagi bersama Mr. Ayub yang menemani kami seharian di Singapura. Sebagai gantinya, kami disambut seorang tour leader dari Malaysia, Cik Layla, yang akan mendampingi kami selama 2 hari kedepan di Malaysia.

Long Trip to Selangor

Tepat pukul 8 pagi kami langsung bertolak ke Negara Selangor via darat. Sebelumnya, Kami membayangkan perjalan ke Selangor menggunakan bus pasti sangat melelahkan dan membosankan karena harus menempuh jarak hampir 300 km via tol yang menghubungkan setiap negara bagian. Prasangka kami salah, tol yang kami lalui sangat lancar dan baik sehingga bus bisa berjalan dengan cepat tanpa ada hambatan. Sepanjang kanan dan kiri jalan tol tersebut, mata kami dimanjakan dengan hamparan hijau perkebunan kelapa sawit yang sangat luas sembari berhenti di rest area setiap 2 jam perjalanan.

A glance of Malaysia's Education System
Yang berbeda dari perjalanan panjang ini adalah kami mendapatkan banyak informasi tentang pendidikan Malaysia dari Cik Layla yang nota bene dia juga concern pada dunia pendidikan usia dini di negaranya dan ditambah beberapa informasi dari ketua rombangan kami, Mr. Yanta, yang juga praktisi pendidikan di Indonesia.

Sebelum bicara banyak tentang pendidikan, Cik Layla, memberikan introduction kepada kami tentang negara Malaysia; mulai dari sistem pemerintahan, keanekaragaman budaya, nasionalisme, tatanan masyarakat sampai pasang surut dunia pendidikan di negaranya.

Dunia pendidikan di Malaysia juga selalu dinamis seperti halnya di Indonesia. Perubahan kurikulum dan kebijakan tambal sulam juga beberapa kali dilakukan. Hal itu tentu saja untuk menjawab kebutuhan masa depan akan daya saing global karena malaysia juga termasuk negara yang menjadi pasar utama dalam perdagangan bebas; CAFTA, AFTA, MEA, dll.

Jenjang pendidikan di Malaysia tidak jauh berbeda dengan di Indonesia, mulai dari TK sampai perguruan tinggi. Hanya waktu tahun pelajaran di sana disesuaikan dengan berawal dan berakhirnya tahun masehi. Mereka memulai tahun pelajaran baru di awal Bulan Januari dan mengakhirinya di pertengahan Bulan Oktober. Bulan November - Desember adalah waktu cuti sekolah. Selain diisi dengan liburan, kebanyakan sekolah di sana menyelenggarakan semacam summer camp seperti halnya sekolah-sekolah di negara barat untuk mendekatkan anak-anak dengan dunia nyata dan melatih soft skill mereka.

Jenjang pendidikan prasekolah atau 'tadika' menekankan pada penanaman karakter dan kecakapan hidup. Anak-anak TK di sana sama sekali tidak diajarkan materi calistung, karena hal itu bisa mempersempit ruang perkembangan afektif dan motorik siswa yang mulai tumbuh.

Sekita usia 7 - 12 tahun, anak-anak di Malaysia wajib mengikuti pedidikan sekolah rendah (red: SD) selama 6 tahun. Di jenjang ini mata pelajaran berhitung dan membaca mulai diperkenalkan. kemudian pelajaran sejarah, Bahasa Melayu dan Inggris adalah mapel wajib yang harus dipelajari oleh setiap siswa, disamping beberapa pelajaran seperti sains, matematika, bahasa mandarin dll. Kerajaan Malaysia saat ini sangat concerned dalam perbaikan nilai kerohanian dan karakter siswa. Maka dalam Ujian Penilaian Sekolah Rendah (UPSR) atau kalau di Indonesia UN, diujikan materi kerohanian selain materi-materi wajib lainnya.

Sekolah menengah di Malaysia terbagi dua; Sekolah menengah rendah (SMP) selama 3 tahun dan sekolah menengah tinggi (SMA) selama 2 tahun. Setelah selesai 2 tahun di SMA siswa boleh mengambil program pra-universiti atau vokasional. Di program pra-universiti, siswa harus mengikuti pelatihan bahasa inggris dan harus lulus ujian Tesol. Bagi yang vokasional akan mendapatkan materi keahlian untuk mendapatkan gelar diploma. Gelar tersebut sudah cukup untuk mendapatkan pekerjaan sesuai dengan keahlian mereka.

Bagi yang melanjutkan pengajian tinggi (PT), pemerintah menyediakan banyak beasiswa dan loan (pinjaman) pendidikan tinggi dan bisa dicicil ketika sudah mendapat pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya. Setelah lulus mereka mendapat Bachelor Degree, tahap berikutnya Master Degree dan Philosophy Doctor (Ph.D) untuk jenjang yang paling tinggi.

Perbedaan yang paling prinsip dengan di Indonesia adalah masa SMA di sana ditempuh selama 2 tahun dan 1 satu tahun setelahnya adalah program persiapan masuk universitas atau program keahlian (vokasional).

Welcome to Selangor

Tidak terasa sepanjang perjalanan kami melalui tol tersebut sepertinya sudah mulai dekat dengan tujuan. Terlihat satu dua bangunan mulai muncul di tengah-tengah perkebunan sawit di sepanjang jalan. Gedung-gedung pencakar langit sudah menengok dari kejauhan. Dan itulah akhir dari perjalanan 5 jam dari Johor ke Selangor.

At a glance, pemandangan Selangor tidak jauh berbeda dengan Jakarta. Tidak seperti di Singapura yang sangat jarang kita temui sepeda motor atau mobil tua berseliweran di jalan raya. Di sana kami temui motor dan mobil keluaran tahun 90an masih banyak dipakai. Perkampungan sederhana di pinggiran kota, hunian sempit di bantaran sungai, rumah petak khas melayu, bahkan beberapa kios yang sedikit memakan badan jalan mebuat kami tidak banyak membedakannya dengan Indonesia.

Nasionalisme
Sepanjang perjalanan di Negara Selangor, mata kami melihat keluar dari balik jendela bus. Beberapa hal yang membaut kami berdecak kagum adalah mobil nasional Malaysia, Proton, dengan berbagai tipe tampak lebih dominan daripada mobil-mobil impor lainnya. Bahkan, bendera Malaysia banyak terpasang di serambi-serambi rumah dan pertokoan meskipun bukan bulan kemerdekaan.

Cik Layla menambahkan, Malaysia punya motto yang berbunyai Satu Malaysia yang mengobarkan semangat Malaysia menjadi satu kesatuan yang utuh dan visioner meskipun di sana terdapat banyak raja-raja kecil di masing-masing daerah. Semua sudah pada porsinya masing-masing dan masayarakat tahu bagaimana menempatkan raja-raja dan perdana menteri mereka sesuai dengan semestinya.

Untuk memperkuat rasa nasionalisme dan wawasan kebangsaan, di sana banyak lagu-lagu patriotik yang harus dinyanyikan oleh setiap siswa dan warga Malaysia apapun ras mereka. Lagu patriotik tersebut terus digubah dan diaransemen ulang sesuai dengan perkembangan jenis musik seperti Pop Melayu, Dangdut, bahkan Rock sesuai dengan selera anak-anak muda.

Batu Cave
Tibalah kami di destinasi berikutnya yaitu Batu Cave, sebuah tebing kapur yang merupakan pusat peribadatan umat Hindu di sana. Di depan kuil berdiri sebuah patung besar berwarna emas, Dewa Murugan, yang katanya sebagai patung terbesar di dunia. Untuk masuk ke dalam kuil-kuil gua kita harus menapaki ribuan anak tangga. Tapi kami tidak banyak memakan waktu di tempat ini, kami hanya sightseeing dari kejauhan sambil mengabadikan persinggahan ini.

Menuju Genting Highlands
Waktu Malaysia sudah menunjukkan pukul 16.00, tapi matahari masih terasa menyengat. Selanjutnya adalah perjalan menuju destinasi yang kami tunggu-tunggu, Genting Highlands yang merupakan perbatasan Negara bagian Selangor dengan Pahang. Untuk mencapainya kami harus siap dengan perjalanan berkelok-kelok menyusuri pegunungan Titiwangsa hingga sampai kepuncaknya dengan ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut. Benak kami mulai bertanya-tanya melihat gedung-gedung tinggi nan megah yang dibangun di pegunangan dengan ketinggian seperti itu, seberapa lama membangunnya dan habis dana berapa.
Tidak halnya seperti di puncak gunung, di sana kami merasakan suasana seperti di tengah kota, hanya bedanya udaranya sangat dingin di sini. Bagunan megah dengan sarana yang canggih memanjakan perjalanan kami kali ini, pemandangan hampir sama kami rasakan di bandara Changi, Singapura.

Resort yang dibangun oleh Lim Goh Tong, mulai tahun 1960 menyediakan beberapa fasilitas kelas dunia seperti First World Hotel yang menjadi hotel ke-2 terbesar di dunia, beberapa fasilitas entertainment, bahkan di bagian paling atas terdapat satu-satunya kasino yang legal di Malaysia.
Untuk menghubungkan resort satu dengan yang lainnya, disedikan fasilitas Skyway atau gondola yang merupakan tercepat di dunia dan terpanjang di Asia Tenggara. Dari titik start kami dibawa ke wahana hiburan, belanja dan kuliner dengan menggunakan skyway tersebut pulang dan pergi.
Kepulangan kami dari genting highway dibersami dengan cuaca yang cukup berkabut. Walupun demikian perjalanan tetap lancar karena luasnya jalan dan penerangan yang baik disepanjang kelokan.

Tiba di KL
Pemandangan megapolitan sudah mulai menghiasi cakrawala kami di depan, samping kanan dan kiri. Bus memutari bibir kota sebelum masuk ke Ibu Kota Negara Malaysia, Kuala Lumpur. Setelah makan malam kami langsung menuju sebuah landmark yang menjadi ikon kota KL sekaligus Malaysia, Menara Kembar Petronas. Kata Cik Layla, konon dua menara kembar ini dibangun dengan menggunakan jasa pengembang yang berbeda untuk setiap towernya. Sengaja mendatangkan kontraktor dari dua negara yang sudah sangat masyhur di asia dalam hal konstruksi, Jepang dan Korea untuk membandingkan performa diantara keduanya. Setelah berjalan beberapa saat, setiap jasa tersebut menunjukkan performa yang berbeda. Jepang membuat progress yang lebih cepat dan Korea lebih lambat. Akantetapi tampaknya perspektif lain yang membuat pemodal lebih cenderung menilai hasil kerja korea lebih baik, yaitu cara instalasi lift di kedua bangunan tersebut. Kombinasi di antara keduanya adalah kerja cepat dan cerdas untuk menghasilkan maha karya yang sangat ikonik dan membuat setiap orang ingin mengabadikan kenangan bersamanya di Malaysia.
Setelah puas dengan beragam pose berfoto-foto bersama si kembar, kami putuskan untuk mengakhiri perjalan kami hari ini dan bergegas menuju hotel karena waktu sudah berada diujung pertengan malam.

Bersambung ke part 3.....

 

Tulisan dari Mr Arif Hidayat, S.Pd (KS SMPI Al Abidin)

 

 

 

 

Read 351 times Last modified on Selasa, 12 Desember 2017 09:43

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.