• Twitter
  • Facebook
  • Google+
  • LinkedIn
  • Flickr
  • Vimeo
  • YouTube
  • RSS
Please select your page
Selasa, 15 Maret 2016 09:47

Tidak ada yang mustahil bagi Allah

Written by

 

 

 

TIDAK ada satu pun zat yang mampu mempermudah urusan kita kecuali Allah. Jika kesadaran itu telah tumbuh dalam hati seorang muslim, seharusnya ia tidak bisa lagi dilanda bimbang dan sedih dalam perjalanan hidupnya. Sebesar apapun masalah yang sedang dihadapi, ia tetap dengan tenang menghadapi masalah itu sambil berkata tegas, “Bagi Allah, tidak ada yang sulit.”

Ketika begitu banyak manusia yang frustasi karena permasalahan hidup yang makin kompleks, seorang muslim yang percaya pada Kuasa Allah tetap rileks dalam menyelesaikan masalah hidupnya setahap demi setahap.

Di saat begitu banyak orang yang putus asa karena merasa beban hidupnya sudah terlampau berat, seorang muslim yang percaya pada ‘kun fa yakun’ nya Allah akan senantiasa tenang dalam menghadapi beban-beban berat dalam hidupnya.

Alangkah tenangnya hidup kita ketika yakin bahwa Allah selalu bersama kita. Allah tidak akan membiarkan hamba-hamba-Nya yang beriman hidup sengsara di dunia ini. Allah tidak mungkin memberikan beban atau masalah di atas kemampuan dan kapasitas makhluknya.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

 

 

 

Kamis, 04 Februari 2016 11:30

Belajar dari Gula

Written by

 

 

 

Pembaca yang budiman,
Gula pasir memberi rasa manis pada kopi 
tapi orang menyebutnya kopi manis... 
bukan kopi gula...

gula pasir memberi rasa manis pada teh 
tapi orang menyebutnya teh manis... 
bukan teh gula...

gula pasir memberi rasa manis pada es jeruk...
tapi orang menyebutnya es jeruk manis... 
bukan es jeruk gula...

orang menyebut roti manis...
bukan roti gula...

orang menyebut syrup pandan, syrup apel,syrup jambu...
padahal bahan dasarnya Gula....

Tapi Gula tetap ikhlas larut dalam memberi rasa Manis...

begitulah hidup...
Kadang kebaikan yang kita tanam tak pernah disebut orang...

=ikhlaslah seperti Gula....

=larutlah seperti Gula..tetap semangat memberi kebaikan...

=karena kebaikan tidak untuk disebut...tapi untuk dirasakan sesama...

=biarlah ALLAH SWT yang Maha Mengetahuinya...

Semoga bermanfaat....

 

 

 

Selasa, 13 Oktober 2015 14:33

"Jimat" Jenderal Sudirman

Written by

Jenderal Sudirman BELUM PERNAH Ditangkap Penjajah Belanda & PKI Karena Pakai 'Jimat'

Pemerhati Komunisme, KH Muh Jazir mengungkapkan bahwa diantara para pejuang dan pahlawan nasional yang belum pernah ditangkap oleh penjajah Belanda, Inggris dan juga PKI atau kelompok Komunis pada zaman revolusioner adalah Panglima Besar Jenderal Sudirman.

Bahkan beberapa kali para pettinggi penjajah Belanda, Inggris dan juga PKI mengeluarkan keputusan dan mengerahkan pasukan untuk menangkap Jenderal Sudirman hingga terkepung, mereka tidak juga bisa menangkap Jenderal Sudirman.

Hal ini dikatakan KH Jazir saat menjadi pemateri dalam tabligh akbar “Mencerdaskan Umat dari Bahaya Komunis” di Masjid Jami’ Wedi Klaten pada Ahad (31/5/2015) malam.

Dengan fenomena tersebut, orang-orang yang memanggul Jenderal Sudirman, seperti Suparjo Rustam, Tjokro Pranolo sampai kaget dan terheran-heran. Sebab, pada saat itu Jenderal Sudirman sedang dalam kondisi sakit.

“Bahkan pada waktu Jenderal Sudirman dikepung oleh tentara Inggris di sekitar Jambu (Temanggung –red) dan Ambarawa (Magelang –red), di situ kan ada sebuah pegunungan dan Jenderal Sudirman beserta pasukannya ada di tengah-tengah, tapi nyatanya Jenderal Sudirman bisa lolos dari pengepungan,” ungkap KH Jazir.

Aktivis senior di Kota Yogyakarta (Jogja) ini menambahkan, hingga pada suatu saat, para pejuang yang setia mendampingi Jenderal Sudirman dan yang memanggung pria yang disebut oleh pasukannya dengan nama “Mas Kyai” itu bertanya, “jimat” apa yang dipakai oleh Jenderal Sudirman.

“Bahkan sampai herannya, Suparjo Roestam dan yang lainnya yang memanggul Jenderal Sudirman ini bertanya, "Sebenarnya jimat apa yang dipakai Mas Kyai ini sehingga selalu lolos dan tidak bisa ditangkap oleh Belanda dan PKI?"

Lalu dengan senyum kecil, Jenderal Sudirman menjawab, iya, saya memang pakai jimat,” ujarnya.

“Dan jimat saya yang pertama adalah, SAYA BERPERANG SELALU DALAM KONDISI BERWUDHU".

Jadi yang pertama Jenderal Sudirman itu selalu bersuci sebelum memulai peperangan. Makanya, kalau kita menyusuri jejak perjuangan dan pemberhentian pasukan Jenderal Sudirman, di situ kita akan mendapati adanya sebuah
PADASAN (semacam gentong atau tempat air yang terbuat dari tanah liat –red), dan padasan itu fungsinya adalah untuk berwudhu Jenderal Sudirman,” jelas KH Jazir.

“Kemudian yang kedua, jimatku adalah SELALU SHALAT DI AWAL WAKTU".

"Jadi dalam kondisi apapun, meskipun sedang pecah perang, Jenderal Sudirman tidak pernah meninggalkan sholat wajib diawal waktu,” imbuhnya.

Dan yang ketiga, jimatku adalah "AKU MENCINTAI RAKYATKU SEPENUH HATIKU".

"Bahkan jika Jenderal Sudirman membawa perbekalan makanan disaat perang, lalu singgah di suatu tempat, maka para pasukannya itu disuruh memberikan makanan itu kepada warga terlebih dahulu,” ucapnya.

Itulah 'jimat' Panglima Besar Jendral Sudirman. Tokoh yg tawadhu' (rendah hati), gigih & pantang menyerah dalam menjaga NKRI.

(1). Selalu dalam keadaan berwudhu,
(2). Shalat di awal waktu dan
(3). Mencintai rakyat tanpa pamrih sepenuh hati.

Maa Syaa' Allaah...
Semoga bermanfa'at..

Selasa, 28 Juli 2015 13:36

Batu Besar

Written by

 

 

 

Suatu hari seorang dosen sedang memberi kuliah tentang manajemen waktu pada para mahasiswa MBA. Dengan penuh semangat ia berdiri depan kelas dan berkata, "Okay, sekarang waktunya untuk quiz." Kemudian ia mengeluarkan sebuah ember kosong dan meletakkannya di meja. Kemudian ia mengisi ember tersebut dengan batu sebesar sekepalan tangan. la mengisi terus hingga tidak ada lagi batu yang cukup untuk dimasukkan ke dalam ember, la bertanya pada kelas, "Menurut kalian, apakah ember ini telah penuh?"
Semua mahasiswa serentak berkata, "Ya!"
Dosen bertanya kembali. "Sungguhkah demikian?" Kemudian.dari dalam meja ia mengeluarkan sekantung kerikil kecil. la menuangkan kerikil-kerikil itu ke dalam ember lalu mengocok-ngocok ember itu sehingga kerikil-kerikil itu turun ke bawah mengisi celah-celah kosong di antara batu-batu. Kemudian, sekali lagi ia bertanya pada kelas, "Nan, apakah sekarang ember ini sudah penuh?"
Kali ini para mahasiswa terdiam. Seseorang menjawab,"Mungkin tidak."
"Bagus sekali," sahut dosen. Kemudian ia mengeluarkan sekantung pasir dan menuangkannya ke dalam ember. Pasir itu berjatuhan mengisi celah-celah kosong antara batu dan kerikil. Sekali lagi, ia bertanya pada kelas, "Baiklah, apakah sekarang ember ini sudah penuh?"
"Belum!" sahut seluruh kelas.
Sekali lagi ia berkata, "Bagus. Bagus sekali." Kemudian ia meraih sebotol air dan mulai menuangkan airnya ke dalam ember sampai ke bibir ember. Lalu ia menoleh ke kelas dan bertanya, 'Tahukah kalian apa maksud illustrasi ini?"
Seorang mahasiswa dengan semangat mengacungkan jari dan berkata, "Maksudnya adalah, tak peduli seberapa padat jadwal kita, bila kita mau berusaha sekuat tenaga maka pasti kita bisa mengerjakannya."
"Oh, bukan," sahut dosen, "Bukan itu maksudnya. Kenyataan dari illustrasi mengajarkan pada kita bahwa: bila anda tidak memasukkan "batu besar" terlebih dahulu, maka anda tidak akan bisa memasukkan semuanya."
Apa yang dimaksud dengan "batu besar" dalam hidup anda? Anak-anak anda, Pasangan anda, Pendidikan anda, Hal-hal yang penting dalam hidup anda, Mengajarkan sesuatu pada orang lain, Melakukan pekerjaan yang kau cintai, Waktu untuk diri sendiri, Kesehatan anda, Teman anda, atau semua yang berharga.
Ingatlah untuk selalu memasukkan "Batu Besar" pertama kali atau anda akan kehilangan semuanya. Bila anda mengisinya dengan hal-hal kecil (semacam kerikil dan pasir) maka hidup anda akan penuh dengan hal-hal kecil yang merisaukan dan ini semestinya tidak perlu. Karena dengan demikian anda tidak akan pernah memiliki waktu yang sesungguhnya anda perlukan untuk hal-hal besar dan penting.
Oleh karena itu, setiap pagi atau malam, ketika akan merenungkan cerita pendek ini, tanyalah pada diri anda sendiri: "Apakah "Batu Besar" dalam hidup saya?" Lalu kerjakan itu pertama kali."

 

 

 

Kamis, 25 Juni 2015 09:24

Terapi Berpikir Positif

Written by

 

 

 

Dr. Ibrahim Elfiky yang menulis buku tersebut yang diterjemahkan oleh Khalifurrahman dkk. penerbit Zaman, menarik untuk menjadi bahan kajian di bulan Ramadhan.
Jika Anda sedang lapar dan di hadapan Anda terhidang makanan rumahan, makanan hotel bintang lima, dan makanan di keranjang sampah. Makanan mana yang akan Anda pilih? Tak ada seorang pun akan memilih yang ketiga. Mengapa demikian? Jawabnya tidak lain, tak ada seorang pun yang membiarkan tubuhnya mendapat masukan yang akan berpengaruh buruk pada tubuhnya. Jadi, mengapa Anda membiarkan pikiran Anda mendapatkan masukan yang sekiranya akan berpengaruh negatif terhadap pikiran yang sehat. 

Setiap bangun pagi, pikiran melahirkan pikiran lain, melahirkan pikiran yang lain lagi, membangun pikiran lain lagi, sehingga menjadi mindset atau pola pikir. Akal seseorang bekerja sesuai arahan pikirannya. Apa pun yang Anda pikir akan mengarahkan akal ke arah yang Anda pikirkan. Akal akan berusaha sebisa mungkin mengikuti pikiran Anda sendiri. Jika Anda berpikir negatif, maka akal akan mengesampingkan hal lain dari sisi yang positif. Misal seorang siswa takut menghadapi ulangan, takut mendapat nilai yang buruk, maka akalnya akan membantu untuk menjauhi ulangan sehingga pikiran negatif mendapat penguatan.

Yang Anda pikirkan dan yang Anda katakan kepada diri sendiri akan membuat pikiran Anda  membuka data pada file-file sesuai dengan yang Anda pikirkan. Karena pikiran mempengaruhi akal Anda, maka pikiran juga mempengaruhi gerak tubuh, ekspresi wajah sehingga seseorang sesungguhnya merasakan bahwa tubuhnya dipengaruhi oleh pikirannya. Pikiran yang tidak sehat menjadikan tubuh Anda pun tidak sehat.

Pikiran tidak hanya mempengaruhi tubuh, namun juga perasaan. Cobalah pejamkan mata, pikirkan bahwa orang yang Anda cintai berdiri di samping Anda, ia memegang pundak dengan lembut, ia bicara dengan yang paling Anda sukai bahwa ia membantu Anda bisa menyelesaikan masalah yang Anda hadapi. Perhatikan pikiran Anda, rasa takut berubah menjadi berani, dan dari berani mengubah diri Anda menjadi kuat dan hebat. Anda pun memutuskan sesuatu dengan penuh percaya diri. Pikiran berpengaruh pada perasaan, dan perasaan yang gundah membuat Anda tak berpikir sempurna.

Pikiran mempengaruhi sikap. Sebagai mahluk yang diciptakan Allah paling sempurna, manusia dibentuk oleh pengetahuannya, nilai-nilai, keyakinan yang membentuk sikapnya. Sikap tidak menggambarkan hakikat diri kita, karena sikap dipengaruhi oleh dunia luar dan kita memberikan respon terhadapnya. Sikap tegas, percaya diri, atau tidak dapat menerima sangat bergantung pada pengendalian pikiran yang mempengaruhi akal. Sikap tegas dan percaya diri lahir dari daya kendali pikiran yang datang dari sabar dan ihlas menerima segala sesuatu yang ada di hadapan kita.

Begitulah ringkasan yang dapat saya sajikan dari buku ini. Dari sebagian isi buku kita dapat belajar tentang Siapakah diri kita? Adalah seperti apa yang kita pikirkan. Pikirkan setiap saat bahwa Anda tak bisa berhenti merokok. Maka jadilah perokok. Berpikirlah bahwa Anda bukan guru, kepala sekolah, atau insan yang tidak seberapa hebat, Anda menghargai diri sendiri lemah. Maka jadilah diri Anda kurang berharga. Yang berbahaya di sini adalah Anda kurang menghargai kebaikan yang ada pada diri Anda sendiri, yang dikuatkan pikiran adalah keluh kesah tentang kelemahan. Kasihan sekali diri Anda yang kurang mendapat penghargaan dari diri Anda sendiri.

Mari kita hargai diri kita sebagimana adanya. Tak perlu dilebih-lebihkan, dan tak perlu direndahkan. Berpikir positif dengan lebih bersyukur, Alhamdulillah sehat, Alhamdulillah kuat berpuasa, Alhamdulillah dapat saling berbagi informasi yang baik, Alahmdulillah dapat berkolaborasi dengan orang-orang baik, Alhamdulillah berada dalam keluarga yang tentram, Alhamdulillah menjadi pendidik….dan Alhamdulilah... alhamdulillah...Alhamdulilah Ya Allah begini berlimpah nikmat yang Allah berikan kepadaku…..Alhamdulillah

 

 

 

Pada suatu hari, Rasulullah SAW dengan sahabat - sahabatnya Abu Bakar, Umar, dan Utsman, bertamu ke rumah 'Ali. Di rumah Ali, istrinya Fathimah r.ha. putri Rasulullah SAW menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang cantik. Tetapi, ketika semangkuk madu itu dihidangkan, terlihat sehelai rambut terikut di dalam mangkuk tersebut. Melihat semua itu, Rasulullah SAW kemudian meminta kepada semua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut (Mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut).


Abu Bakar r.a. berkata, "Iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman itu lebih manis dari madu dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut".


Setelah Abu Bakar mengucapkan perbandingannya, Umar r.a. berkata, "Kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang Raja itu lebih manis dari madu dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut".


Kemudian, Utsman r.a. berkata, "Ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan beramal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut".


'Ali r.a. berkata, "Tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamu tamu itu lebih manis dari madu dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumanya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut".


Fatimah r.ha.berkata, "Seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang ber-burdah (menutupi kepalanya dengan kerudung dan niqab) itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut".


Rasulullah SAW berkata, "Seorang yang mendapatkan taufiq untuk beramal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, beramal dengan amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut".


Malaikat Jibril AS berkata, "Menegakkan pilar - pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, menyerahkan diri; harta; dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut".


Allah SWT berfirman, "Surga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat surga-Ku itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju surga-Ku adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut".

 

 

 

Halaman 2 dari 2