• Twitter
  • Facebook
  • Google+
  • LinkedIn
  • Flickr
  • Vimeo
  • YouTube
  • RSS
Please select your page
Sabtu, 16 September 2017 08:36

Akibat kurang bermain diwaktu kecil

Written by 
Rate this item
(1 Vote)

Ayah bunda, ada guyonan yang sering kita dengar "masa kecil kurang bahagia" ya kan? Itu terjadi ketika orang dewasa bertingkah seperti anak kecil, bermain dan berbagai ekspresi seperti anak kecil. Ya, itu benar adanya. Jika anak di masa kecilnya kurang bahagia, dia akan mencari kepuasan bermain di masa dewasanya. Mengapa demikian? Karena di waktu kecilnya ia selalu dilarang. Main 'betengan' orangtua khawatir anaknya kecapekan, main 'gobaksodor' orangtua takut anaknya kepanasan, main di sungai orangtua takut anaknya tenggelam. Alhasil, dia jadi anak manis di rumah. Diam saja. Nah, setelah dewasa dia tidak lagi ditekan dan di atur orangtuanya. Akhirnya dia baru sempat melampiaskan keinginan bermainnya. Jangan sampai anak kita demikian ya, bun.

Ternyata akibat kurang bermain di masa kecil juga sangat berpengaruh pada karakter seseorang. Dan ini akan terbawa sampai ia dewasa kelak. Apa sajakah itu? Mari kita cermati.

Penakut.
Orang dewasa tapi penakut. Takut menghadapi resiko. Takut menghadapi sesuatu yang menantang. Takut dengan sesuatu yang belum terjadi. Rasa khawatir mendominasinya sebelum mencoba. Ya, itu karena dia kurang bermain di masa kecilnya. Di dunia bermain, mental anak terasah untuk berani mencoba. Gobaksodor misalnya. Kalau dia hanya diam saja, banyak resiko akan di dapat. Ya diteriaki teman suruh segera bergerak, ketangkap musuh atau timnya bisa kalah. Maka dengan segala resiko dia harus berani mengambil sikap dan segera bergerak. Mentalnya terasah menjadi pemberani.

Emosional.
Ayah bunda pernah mencermati orang yang demikian? Cepat tersinggung, tidak mau menerima kekalahan, sulit menerima kenyataan dan sulit minta maaf.
Dalam dunia bermain, kalah menang itu biasa. Jika anak terbiasa mengalaminya, mentalnya akan terasah. Hari ini dia menang, bisa jadi besuk dia kalah. Atau dalam hitungan menit bisa berubah. Bermain betengan ( sembunyi2an) misalnya. Saat ini dia yang mencari. Beberapa menit kemudian dia yang dicari. Kadang lolos...kadang juga ketangkap. Menang tidak akan terlalu bergembira dan jIka kalahpun tidak akan terlalu sedih. Bahkan ketangkappun dia masih bisa tertawa-tawa. Mentalnya terasah menerima kenyataan yang ada.

Tak berani berpendapat.
Orang dewasa tapi hanya manut dan tergantung terhadap orang-orang di sekitarnya. Bagaimana sikap orang kebanyakan itulah yang diikuti. Ia takut berbeda. Dia tidak punya prinsip. Wah, orang seperti ini mengkhawatirkan sekali, bun. Apalagi ketika berbaur di masyarakat yang beraneka ragam. Dia akan mengalami kebingungan menentukan sikapnya. Tak berani berbeda walau bertentangan dengan isi hatinya. Kasihan. Dia bakal terombang-ambing disebabkan dirinya sendiri. Karena tidak punya prinsip.

Ayah bunda, di era gagdet saat ini dunia bermain anak mulai beralih. Dari dunia penuh keceriaan bermain bersama teman-teman ke dunia menyendiri di tengah keramaian. Mari, ajak anak kita bermain lagi untuk mempersiapkan karakternya di masa depan.

Dari : Kepala Sekolah SDII Al Abidin Surakarta :
Bunda Farida Nur'aini

 

 

 

 

 

 

 

Read 321 times Last modified on Sabtu, 16 September 2017 08:50

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.