• Twitter
  • Facebook
  • Google+
  • LinkedIn
  • Flickr
  • Vimeo
  • YouTube
  • RSS
Please select your page
Kamis, 17 Maret 2016 07:54

Rumah Orang Beriman

Written by

 

 

 

 

 

 

 

rumah bagi hamba yang beriman bukan hanya untuk berteduh, tempat tinggal keluarga apalagi hanya untuk status sosial. Hamba beriman itu tahu persis TUJUAN HIDUP yang sebentar ini, inilah diantara fungsi rumah bagi hamba berIman :

1. "Al musholla", rumah ibadah untuk meraih ridho Allah, dihidupkan dg tadabuurul Qur'an dan sholat sholat sunnah, "Terangilah rumah-rumahmu dg sholat dan membaca Al-qur'an (HR Baihaqi).

2. "Al Madrasah", majlis ilmu, ayah ibu gurunya, anak anaknya menjadi muridnya, demikian pula suami gurunya bagi istrinya (QS Luqman 13).

3. "Al Junnah", benteng penjagaan iman keluarga dan benteng dari penyakit sosial, “Selamatnya seseorang ketika terjadi fitnah adalah dg menetapi rumahnya” (HR Ad Dailami).

4. "Al maskanah", pelipur lara dan pelepas duka untuk ketenangan (QS Ar Rum 21).

5. "Al Maulud" tempat memperbanyak keturunan umat nabi Muhammad (QS An Nisa 1).

6. "Al Markaz", mempersiapkan generasi dakwah yang tangguh, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS at-Tahriim:6).

7. "Al mahyaus Sunnah" untuk menghidupkan sunnah sunnah. Rasulullah, cara makan, minum, adab hubungan suami istri dsb (QS Al Ahzab 21).

8, "Al Marham" forum liqo, shilaturrahm dg tetangga dan sahabat mu'min (QS An Nisa 1).

9. "Al Masykuur" tempat bersyukur atas semua ni'mat karunia Allah tiada terhingga (QS Ibrahim 7).

money can buy a house but money can not buy a home, uang memang dapat beli rumah yg mewah sekalipun tetapi uang tidak dapat beli ketenangan dan kebahagiaan, kecuali rumah itu dihuni oleh hamba hamba Allah yg beriman, maka tenang, damai, bahagia pun diraih, Syurga sebelum Syurga.

"Allahumma ya ALLAH jadikanlah rumah kami, rumah yang penuh dg RAHMAT dan BERKAHMU...aamiin".

 

 

 

 

 

 

 

Selasa, 15 Maret 2016 09:50

Ujian dari Allah

Written by

 

 

 

Cara Allah mencintai hambaNya, salah satunya adalah memberikan ujian sesuai dengan porsinya..
Porsi setiap hamba tentunya berbeda disesuaikan dengan kapasitasnya dan kadar keimanannya..
.
Tentunya di setiap soal selalu dibuat pula kunci jawabannya..
Allah yang memberikan masalah..Allah pula yang akan memberikan jawabannya..
Maka sebelum mencari jawaban permasalahan.."carilah" Allah sebagai pemegang kunci jawaban..
Sekali sekali Allah tidak pernah menzalimi hambaNya..
.
Ketika Allah memberikan ujian kepada kita..karena Allah tau kita yang sanggup melaluinya..belum tentu ujian ini bisa dilalui oleh yang lain..Allah percaya pada kita..=')
.
Bukankah kebahagiaan dan nikmat yang Allah berikan selama kita hidup tak sebanding dengan ujian yang kita dapatkan?
.
Bukankah ujian jika dihadapi dengan kesabaran maka akan membersihkan dosa-dosa dan meninggikan derajat kita di hadapanNya?
.
Bukankah pula dengan ujian kita kembali diingatkan bahwa kita ini sangat lemah dan sangat membutuhkan Allah?
.
Bukankah dengan ujian yang menimpa kita terkadang menghilangkan sifat ujub pada diri kita?
.
Terkadang kita merasa ujian kita paling berat..padahal di luar sana banyak yang lebih berat ujiannya daripada kita..
.
Berhusnudzonlah kepada Allah, yakinlah bahwa dibalik ujian dan musibah yang menimpa kita ada kebaikan dan hikmah.
.
“Maka mungkin kalian membenci sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak” (QS An-Nisaa : 19)
.
Bahkan bisa jadi musibah atau ujian yang kita benci tersebut bahkan mendatangkan banyak kebaikan.Hanya terkadang kita perlu bersabar untuk memahami semua skenario Allah tersebut..=)
.
Jadi mulai sekarang ketika kita diuji..berhusnudzonlah kepada Allah dan katakan pada diri kita.."sabar duhai diri..kita sedang disayang Allah.."
.
Allah tak pernah salah memberikan ujian kepada hamba2Nya..=)
.
Sabar dan ikhlas adalah kuncinya..
.
Ajarkan kami memiliki hati yang sabar dan ikhlas dalam menerima semua ketentuanmu Ya Rabb...aamiin Ya Mujib...

 

 

 

Jumat, 05 Februari 2016 07:44

Memanjakan Anak, bolehkah?

Written by

 

 

 

Cara menghancurkan anak paling mudah adalah dengan memanjakannya | memudahkannya dalam semua hal, menyediakan baginya semuanya

mungkin orangtua berpikir "dulu aku boleh susah, anakku jangan sampai sama" | jarang orangtua memahami, proses itu yang utama, bukan hasil

padahal susah itu yang membentuk seseorang, yang membuatnya tahan | sementara kemudahan yang datang sebelum waktunya itu merusak

apalagi kemudahan yang datang tanpa proses yang benar | akan jadi alasan, untuk tidak berjuang, untuk tidak berpayah dalam sesuatu

dan anak-anak kita berubah, jadi manusia yang tak kenal nikmat sejati | yaitu bahagia yang didapat setelah bersusah payah, melebihi batas

dan orangtua sering lupa, bahwa kesulitanlah yang membentuk mereka | bukan dimanja senantiasa, bukan dituruti segala maunya

ajarkan anak-anak kita untuk terbiasa dengan kehidupan | bimbing mereka menjalani prosesnya bukan hasilnya

bahwa tak semua yang mereka inginkan bisa mereka dapatkan | bahwa tak semua kondisi ideal, mereka harus terbiasa dengan itu

agar mereka mampu berkarya dalam keterbatasan | bersabar saat penantian dan bersyukur saat memiliki

yang terpenting, agar mereka memahami dunia ini bukan tujuan | tapi merekalah yang harus kendalikan dunia agar jadi bekal akhirat

Felix Siauw

 

 

 

Rabu, 03 Februari 2016 08:31

Mengemudikan Hati

Written by

 

 

 

Inilah tugas kehambaan kita; mengemudi hati menuju Allah. Alangkah berat & peliknya; sebab ia qalb; bergoyah-gayih, berbolak-balik.

Maka dalam doa teragung nan tercantum di Ummul Kitab & terucap di tiap raka'at; kita memohon jalan yang lurus. Lurus menuju padaNya.

Tapi yang sering lupa diinsyafi; jalan yang lurus ke langit itu, di bumi justru berkelok, curam, terjal, menikung, & bergelombang.

Sebab ia adalah “Shirathalladzina an'amTa ‘alaihim”; jalan orang-orang yang Allah beri nikmat. Al Quran mengisahkannya dengan syahdu.

Kisah-kisah itu; yang mengambil bahagian terbesar dalam Al Quran; membentang dari Adam hingga Muhammad; semua menceritakan lika-liku.

Maka ya Allah, susurkan dan susulkan kami di jalan mereka yang Kau limpahi cinta; dalam sempit maupun lapangnya, senyum dan juga lukanya.

Maka Ya Allah, walau tak Kau kayakan kami seberlimpah Sulaiman; karuniai kami syukur dan tawadhu’nya, yang hormati semut serta burung Hud-hud.

Maka Ya Allah, walau tak Kau beri kami daya raga dan keajaiban seperkasa Musa, curahi kami keberanian dan keteguhannya memimpin kaum yang sering membuat kecewa.

Maka Ya Allah, walau usia tak sepanjang Nuh mulia, tegarkan kami dengan kegigihan da’wah dan tekad bajanya untuk terus menyampaikan kebenaran dalam aneka cara.

Maka Ya Allah, walau paras tak setampan Yusuf rupawan, kuatkan diri kami menahan semua goda dan derita, tajamkan nuraninya hingga mampu membaikkan negeri.

Maka Ya Allah, walau keajaiban tak selalu sertai perjalanan, penuhi hati kami dengan kasih mesra seperti ‘Isa, hingga tunduklah musuh dalam cinta.

Maka Ya Allah, walau tak perlu ditelan ikan di gelap lautan, hiasi jiwa kami dengan kepasrahan Yunus yang rintih doanya Kaudengarkan.

Maka Ya Allah, walau tak usah mengalami kehilangan, dicekik sakit, miskin, dan musibah; sejukkan hati kami dengan sabar dan dzikir seperti Ayyub yang tabah.

Maka Ya Allah; walau ujian cinta tak seberat Ibrahim, Hajar, dan Sarah; limpahi keluarga kami dengan sakinah, mawaddah, dan rahmah, dengan keturunan yang shalih serta shalihah.

Maka Ya Allah, walau ibadah tak seterpelihara Zakaria dan kesucian tak seterjaga Maryam; nikmatkan bagi kami bakti anak mulia seperti Yahya dan ‘Isa.

Maka Ya Allah, walau belum pernah mencicipi surga bak Adam dan Hawa, jadikan rumah kami terasa surga sebelum surga, terimalah taubat atas segala dosa.

Maka Ya Allah, walau hidup tak sepedas-pedih warna-warni hayat Ya’qub, jadikan kami hanya mengadu padaMu semata, hingga menampilkan kesabaran cantik yang mencahaya.

Maka Ya Allah, walau tak harus lari dan bersembunyi sebagaimana para Ashabul Kahfi, beri kami keberanian dan perlindungan saat tegas mengatakan Al Haq di depan tirani.

Maka Ya Allah, walau kerajaan tak seluas Dzul Qarnain, curahi kami akhlaq pemimpin; yang senantiasa menyeru pada iman, membebaskan ummat, serta menebar manfaat.

Maka Ya Allah, walau jangan sampai Kau karuniai pasangan yang mirip Fir’aun, teguhkan kami bagai Asiyah yang mukminah, anugerahkan rumah di sisiMu di dalam surga.

Maka Ya Allah, walau persoalan hidup tak sepelik yang dialami Ibunda Musa, bisikkan selalu kejernihanMu di firasat kami saat menghadapi musykilnya hari-hari.

Maka Ya Allah, walau ilmu dan kebijaksanaan tak seutuh Luqman Al Hakim; tajamkan fikir dan rasa kami untuk mengambil ‘ibrah di setiap kejadian.

Maka Ya Allah, susurkan dan susulkan kami di jalan lurus, di lapis-lapis keberkahan.

(Salim A Fillah)

 

 

 

Kamis, 07 Januari 2016 07:41

Story for our childrens

Written by

Dear Parents,

* Tarzan lives half naked,
* Cinderella comes home at midnight,
* Pinocchio lies all the time,
* Aladdin is the king of thieves,
* Batman drives at 200 mph,
* Romeo and Juliet commit suicide out of love,
* Harry Potter uses witchcraft,
* Mickey and Minnie are more than just friends,
* Sleeping Beauty is lazy,
* Dumbo gets drunk and hallucinates,
* Snow White lives with 7 guys.

We shouldn’t be surprised children misbehave, they get it from their storybooks and cartoons which ''we'' provide them...

We should instead be teaching them stories like;

*Abu Bakr (ra)’s loyalty and undying service for his master,
*Umar ibn Khattaab (ra)’s love for justice and tolerance,
*Uthman ibn Affan (ra)’s level of shyness and modesty,
*Ali ibn Abi-Talib (ra)’s show of courage and bravery,
*Khalid ibn Waleed (ra)’s desire of combating evil,
*Fatima bint Muhammad (ra)’s love and respect to her father,
*Sallahuddin Al-Ayubi (ra)’s conquest of the promised land,

Above all, we should teach them about Allah (subhanahu wa ta'ala).

If we are teaching our kids stories from the authentic Qur’an and Sunnah AND implementing it, InshaAllah they will never be lead astray.

A reminder for myself first and foremost. I got it from a Whatsapp group and want to share with everyone.

#Repost

Selasa, 05 Januari 2016 14:51

Taqwa

Written by

 

 

 

Semester 2 telah tiba

Setumpuk tugas, PR dan ulangan terbayang sudah di depan mata

Sebenernya sejak terima LCK (raport) kita pasti sudah mempunyai target bahwa 'SEMESTER DEPAN HARUS LEBIH BAIK LAGI'. Emang begitu seharusnya.

 

Saat kita punya impian, saat kita punya rencana, saat kita punya target yg akan kita capai, pasti deretan checklist segera kita buat. Segenap variabel pendukung pasti akan kita gunakan utk mencapai target kita.

Apa sih target kita?

Masing2 pastilah beda, misal

- The best maksimal

- all 100 for exam

- hafal 2 juz, 3 juz, 4 juz dst

- juara di tournamen atau olimpiade2 sesuai bakat

- sukses memulai usaha

Ñ masih banyaak lagi...

 

Variabel apa yg kita kerahkan utk mencapainya?

- atur jadwal yg kenceng

- no FB no Hp on weekdays

- les/tambahan

- upgrade laptop biar blajar maksimal

- punya soulmate yg pinter biar bisa ngajarin

Variabel ini juga masih banyaak lagi...

 

Sekarang pertanyaannya,

Apakah variabel2 tersebut menjamin tercapainya target2 kita di atas tadi?

Siapakah yg akan menjadikan kita The best?

Siapakah yg akan memudahkan kita blajar?

Siapakah yg akan membuat kita tepat waktu dg jadwal?

Siapakah yg akan menenangkan kita saat kita nahan Ъќ fb-an/hp-an?

Siapakah yg akan menyehatkan kita shg lancar kegiatan kita?

Yes, HANYA ALLAH yg bisa menjamin tercapainya semua target kita. Sangat mudah bagiNya untuk memberikan itu semua untuk kita.

 

Jadi variabel apa  yg pertama seharusnya kita usahakan? Jadwal ketat kah? Les kah?

NO!

Yang pertama kali harus kita upayakan adalah KETAQWAAN. Ya, Ketaqwaan kepadaNya.

 

Taqwa adalah kita MELAKSANAKAN PERINTAHNYA DAN MENJAUHI LARANGANNYA.

Ingat dlm surat At Thalaq 2-4

(2) Wamayyattaqillaaha yaj'allahu makhrojan >> Siapa yg bertaqwa kepada اَللّهُ niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya.

(3) Wayarzuq'hu min haytsu laa yahtasib >>Dan dia memberi rezeki dr arah yg tdk disangka2

Wamayyatawakkal 'alallaahi fahuwa hasbuhuu innallaha balighu amrihi >> Dan barang siapa bertawakal kpd اَللّهُ niscaya اَللّهُ akan mencukupkan keperluannya, sesungguhnya اَللّهُ melaksanakan urusanNya

(4) Wamayyattaqillaaha yaj'allahu min amrihii yusroo >>Dan barang siapa bertaqwa kpd اَللّهُ, niscaya Diamudahkan urusannya

 

See?

Kita 'hanya' disuruh melaksanakan perintahNya sebaik2nya, dan menjauhi larangannya.

Variabel2 lainnya tidak akan berhasil tanpa ada TAQWA. Tapi bisa jadi, dengan variabel Taqwa maka variabel yg lainnya hanya jadi formalitas (cuman jadi syarat, Ъќ perlu ngotot). Yg namanya 'syarat' ya tetep harus dilakukan kan...

 

Jadi, semester 2 ini kita harus gimana nih?

Shalat 5 waktu TEPAT WAKTU, baru ikuti jadwal kita (bukan blajar dulu sholatnya ntar2)

- Shalat Malam, minta sebanyak2nya, baru ngerjain PR yg blm kelar

Shalat Dhuha, baru beraktifitas di sekolah (usahakan kita nggak pede sekolah sblm dhuha)

Target ngaji/hafalan brapa banyak dulu sebelum bikin target nilai 100

Puasa sunnah dulu sebelum punya pengen2 yg lainnya (menang lomba/tournamen/olymp)

sedekah dulu sebelum brangkat utk ulangan

- Jangan maksiat dan 'jangan2' yg lainnya yg memang dilarang (melakukan hal2 yg dilarang akan menyebabkan Allah menunda datangnya rejeki kita)

 

SIAPKAH???

Taqwa dulu, baru pasang target. Kita hanya disuruh NURUT dan SABAR (it mean TAWQA wa TAWAQAL), maka urusan kita Allah yg akan urus, rejeki kita akan datang dr arah yg tdk kita sangka, keperluan kita akan dicukupkan, kesulitan akan diberikan jalan keluar.

APA LAGI? Ъќ ada lagi, beres sudah semuanya.

 

SIAP ya... ALLAH DULU, ALLAH LAGI, ALLAH TERUS...Insya Allah semua rencana kita mendapat ridhoNya. Aamiin..

 

Doa ibuk+bapak untuk yang besok pada mulai sekolah,

loving u all, nak

IBUK.

(inspirasi pesan by bapak)

*diambil dari Facebook Bunda Yuti (orang tua siswa SMA ABBS Surakarta)

 

 

 

Halaman 2 dari 2