• Twitter
  • Facebook
  • Google+
  • LinkedIn
  • Flickr
  • Vimeo
  • YouTube
  • RSS
Please select your page
Jumat, 18 Maret 2016 08:08

Membentuk Karakter, Membangun Peradaban

Written by

 

 

 

Di sebuah hotel yang melaksanakan program go green, menghimbau tamu-tamunya untuk hemat dalam memakai handuk. Kalau memang masih bersih, tamu disarankan untuk menjemur handuk dengan baik di kamar mandi. Sebab, mencuci satu handuk sama dengan menghabiskan air dari 1 pohon. Bila setiap hari sebuah hotel mencuci 500 handuk, itu artinya telah memakai air dari 500 batang pohon. Betapa borosnya dan betapa mahalnya biaya satu handuk.

Berapa juta pohonkah yang harus tetap terawat dengan baik agar dapat menyimpan air dengan baik untuk memenuhi kebutuhan mencuci bagi ribuan hotel di sebuah negara?

Bila tamu-tamu hotel abai dan cuek saja dengan himbauan tersebut, lalu tiga malam dia menginap tiga pula handuk yang dia pergunakan dari hotel, handuk yang baru dipakai sekali mandi dia biarkan kotor dan tergeletak dilantai, tentu lingkungan hidup kita akan semakin sulit untuk dijaga. Padahal, handuk yg sekali pakai tersebut masih sangat bersih dan layak dipakai sekali atau duakali mandi lagi.

Ini baru satu perilaku sederhana dalam penggunaan handuk yang berefek kepada borosnya air. Tapi perilaku sederhana ini, bila terbentuk dalam setiap orang, akan memberikan manfaat yang besar pada kesinambungan hidup manusia.

Di sebuah kota, pemerintahnya telah membagi jadwal pembuangan sampah dari setiap rumah. Sampah plastik satu hari. Besoknya sampah basah. Dan begitu seterusnya. Yang tidak terpilah sampahnya, tidak akan diambil oleh petugas, dan malah akan didenda. Akibatnya, setiap rumah telah memilah dulu sampah-sampahnya. Dan menaroknya di depan rumah masing-masing sesuai jadwal.

Awalnya aturan ini sangat berat menjalankannya. Bahkan menimbulkan perlawanan dari sebagian yang merasa kenyamanannya terganggu. Atau orang-orang yang sudah terbiasa membuang sampah seenaknya tanpa mau memilah. Namun karena kegigihan pihak pelaksana, pelan tapi pasti, masyarakat itu mulai terbiasa membuang sampah secara teratur. Bahkan 150an ribu keluarga sudah sangat teratur. Dan ratusan bank sampah terbentuk di kota tersebut. Akibatnya kota menjadi lebih bersih, pengelolaan sampah menjadi lebih murah bahkan produktif.

Seorang Ustadz kondang sudah terbiasa merapikan letak sandalnya ketika akan masuk masjid. Sandal tersebut dia susun rapi menghadap keluar. Tidak lupa, beberapa pasang sandal di kanan kiri sandalnya, beliau rapikan juga menghadap keluar. Begitulah selalu beliau lakukan ketika hendak masuk masjid.

Awalnya kelihatan aneh. Tapi lama kelamaan banyak jamaah yang meniru gaya sang ustadz. Akhirnya itupun menjadi kebiasaan bersama yang ringan. Sandal sepatu berjejer rapi menghadap keluar. Saat selesai shalat dan keluar masjid, kaki tinggal disorongkan ke sandal masing-masing. Kalau masih ada sepasang dua pasang sepatu yang tidak teratur atau terbolak-balik, kemungkinan besar itu tamu yang belum terbiasa "teratur".

Di sebuah negara, sudah menjadi kebiasaan bila terjadi macet kendaraan, maka semua mobil mengambil jalur kiri dan yang paling kanan. Adapun yang tengah dikosongkan. Tidak ada yang berani mengisi atau melewatinya. Mereka tetap sabar dan disiplin. Untuk apa jalur tengah yang kosong ini? Sementara di bagian pinggir kanan dan kiri banyak mobil macet berjejer?

Jalur ini diperuntukkan bagi ambulan, pemadam kebakaran dan mobil polisi. Sehingga bila ada kecelakaan, kebakaran atau korban yang perlu dievakuasi cepat dan segera, maka pertolongan akan mudah sampai ke lokasi dan pertolongan dapat segera diberikan.

Hari ini kita masih terus menyaksikan disekitar kita, tidak hadirnya peradaban karena hilangnya karakter. Tidak muncul kemajuan karena rendahnya kepedulian dan rasa tanggung jawab.

Kita menyaksikan orang-orang yang membuang sampah sembarangan dan seenaknya. Jelas-jelas ada bak sampah yang besar, tapi sampahnya ditarok diluar bak sampah. Apatah lagi untuk memilah sampah dari rumah. Takkan mau mereka melakukan.

Di jalan raya, mobil-mobil baru dan mewah bersileweran. Tanda sebagian orang ekonominya sudah naik kelas. Namun, ternyata ilmu dan akhlaknya belum naik kelas. Tidak sedikit kita temukan, dari jendela mobil mewah tersebut, mereka membuang sampah ke jalan. Ke kiri atau ke kanan. Kadang ada pengendara lain yang terganggu atau tertimpa karena lemparan sampah tersebut.

Bila kita berkunjung ke masjid, didepan pintu masjid sandal dan sepatu berserakan tidak terartur. Padahal kadang ada raknya di dekat itu, tapi tidak digunakan. Masing-masing tidak peduli dengan kerapian.

Begitu juga dijalan raya. Jangankan akan mengosongkan satu jalur, jalan yang satu jalur saja bisa dipaksa menjadi dua atau tiga jalur mobil. Karena masing-masing ego dan tidak mau mengalah. Sedikit saja celah, kepala mobilnya langsung masuk.

Apalagi pengendara sepeda motor. Banyak yang tidak ada etika dan sopan santun berkendara. Motornya tak kenal berhenti. Yang ada hanya gigi maju, tak ada gigi berhenti. Kanan atau kiri tak peduli, setiap celah mesti dikebut mengisinya. Bila nampak ada mobil yang mau berbelok, dan bahkan sudah mengasih kode lampu, justru motornya semakin kencang dan dikebut. Tak ada cerita mengalah.

Lama-kelamaan masyarakat semakin rusak. Satu sama lain tidak peduli. Kehidupan semakin ganas. Peradaban akan hancur. Nafsi nafsi....

 

 

 

Rabu, 03 Februari 2016 08:34

Gerakan 1821

Written by

 

 

 

Sdr & sahabatku yg tercinta, khususnya yg mempunyai anak SMA kebawah, betapa dasyatnya pengaruh HP thd perkembangan anak2 kita.
Anak2 semakin egois, susah dikendalikan dan dampak negatif lainnya. Untuk itu mari kita lawan dg gerakan 1821.

Gerakan 1821 adalah himbauan kepada para orangtua untuk melakukan puasa gadget/HP, hanya 3 jam  saja : jam 18.00 sd 21.00. 
Simpan dulu HP-mu Ayah bunda, simpan dulu BB, tab dan laptopnya. 
Temanilah anak2 kita, hanya 3 jam saja.
Bersama mereka, dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa & raga kita.

Apa yang harus dilakukan selama 3 jam?

3B: Bermain, Belajar, Bicara (Ngobrol).

Iyah, cuma 3B saja. 
Bermain apa saja, boleh mainan tradisional, bermain petak umpet, tebak-tebakan, pokoknya apa saja. 
Bisa juga menemani mereka belajar. Belajar agama dan apa saja yg positif.
Bisa mengerjakan PR, belajar ilmu baru, berbagi pengalaman pengetahuan dan yang lainnya.

Juga bisa diisi dengan banyak ngobrol. 
Bicara, bicara, bicara. 
Ajak anak-anak  bicara. 
Apa saja. 
Lebih-lebih bicara tentang mereka, keinginan mereka, dan apa saja.

Hanya 3B : bermain, belajar, bicara dan tidak semuanya harus dilakukan pada saat yang sama, bisa dijadwal dan dibuat seenjoy mungkin.
Bisa  dikombinasikan. 
Pilih aktivitas yang nyaman dilakukan bersama.

Mari Ayah, ayo Bunda.
Puasa gadget/HP dan TV.. 
Hanya 3 jam saja. Jam 18 sd 21 saja!

Ingat ya...1821

 

 

 

Selasa, 15 Desember 2015 07:19

Jujur itu Makmur

Written by

 

 

 

Mengapa Denmark menjadi salah satu negara paling makmur di dunia? Padahal negaranya tidak memiliki sumber kekayaan alam yang melimpah, padahal kondisi musim di negara itu sangat ekstrim karena dekat dengan kutub utara. Padahal di negeri ini matahari dan siang hari hanya sebentar saja, terutama di musim dingin. Denmark adalah negara paling nyaman untuk tempat tinggal manusia di dunia, negara dengan pendapatan penduduk paling tinggi di dunia, juga menjadi negara paling makmur didunia paling bersih di dunia hingga mendapat gelar “Negeri Dongeng”.

Meskipun kemudian tingkat kenyamanannya tergeser oleh New Zealand. New Zealand menempati urutan pertama negara paling nyaman untuk tempat tinggal manusia di dunia.

Yang menjadi penyebab Denmark dan New Zealand menjadi negara termakmur adalah karena masyarakatnya jujur.

Orang Denmark percaya bahwa semua kebaikan yang ada di negaranya berawal dari kejujuran, pada saat seorang jujur maka semua fasilitas umum untuk rakyat akan terbangun dengan baik oleh pemerintah, sebagaimana mestinya sesuai standar mutu yang telah ditetapkan di segala bidang mulai dari kesehatan, pendidikan, kesejahteraan dll.

Masyarakat Denmark percaya bahwa kejujuran bisa melahirkan segalanya. Mereka percaya bahwa setiap manusia itu pintar, dengan kejujuran maka setiap kepintaran manusia akan menjadi manfaat bagi sesama dan seluruh negeri.

Mereka yakin jika setiap aparat pemerintah jujur, mulai dari pejabat, menteri, polisi dan seterusnya dan rakyatnya jujur maka sebuah negara bisa menjadi makmur tanpa perlu menjadi yang paling pintar di bidang pendidikan.

Ternyata memang benar, Denmark masuk dalam salah satu negara dengan tingkat korupsi nyaris nol, seperti juga di Finlandia dan New Zealand.

Karena kejujuran itulah akhirnya pendidikan di negara ini pun menjadi lebih baik dan sangat maju. Jadi tidak salah jika kita katakan bahwa ketidak jujuran (mental korup), akan melahirkan bencana berantai dalam sebuah negara.

Mereka begitu yakinnya bahwa kejujuran adalah awal dari semua kebaikan dan bukannya kepintaran. Kejujuran dan etika moral adalah prioritas utama, sedangkan kepintaran dapat dikembangkan kemudian, karena setiap anak terlahir pintar.

Tidak usah pusing jika seorang anak belum bisa calistung saat masuk SD atau bahkan setelah sekolah SD, tapi jangan terjadi anak tidak jujur dan beretika buruk.

Karakter, perilaku, dan kejujuran adalah landasan untuk membangun Indonesia yang kuat dan makmur, bukan angka-angka akademik yang tertera di buku-buku raport sekolah.

 

 

 

Selasa, 30 Juni 2015 07:48

SEKOLAH "KNOWING" VS SEKOLAH "BEING"?

Written by

Satu hari saya kedatangan seorang tamu dari Eropa, saya menawarkannya melihat-lihat objek- wisata kota Jakarta. 

Pada saat kami ingin menyeberang jalan, kawan saya ini selalu berusaha untuk mencari zebra cross.

Berbeda dengan saya dan orang Jakarta yang dengan mudahnya menyeberang dimana saja suka, teman saya ini tetap tidak terpengaruh oleh situasi, dan terus mencari zebra cross setiap kali mau menyeberang. Padahal di Indonesia tidak setiap jalan dilengkapi dengan zebra cross.

Yang lebih memalukan meskipun sudah ada zebra cross tetap saja para pengemudi tidak mau memberikan jalan dan tetap menancap gas sehingga rekan saya sering menggeleng-gelengkan kepalanya tanda begitu kagumnya terhadap prilaku bangsa kita.

Akhirnya saya coba menanyakan pandangan teman saya ini mengenai fenomena menyebrang jalan tadi.

Saya bertanya mengapa orang-orang di negara kami menyebrang tidak pada tempatnya, meskipun mereka tahu bahwa Zebra Cross itu adalah untuk menyebrang jalan. Sementara dia selalu konsisten mencari zebra Cross meskipun tidak semua jalan di negara kami dilengkapi dengan zebra cross.

Pelan-pelan dia menjawab pertanyaan saya. 

Katanya.... 

It's all happened because of The Education System.

Wah.. bukan main kagetnya saya mendengar jawaban rekan saya. 

Apa hubungan menyebrang jalan sembarangan dengan sistem pendidikan...? 

Lalu dia melanjutkan penjelasannya, 

Di dunia ini ada dua jenis sistem pendidikan, yang pertama adalah sistem pendidikan yang hanya menjadikan anak-anak kita menjadi mahluk “Knowing” atau sekedar tahu saja, sedangkan yang lainnya sistem pendidikan yang mencetak anak-anak menjadi mahluk “Being”.

Maksudnya...., ?

Ya, kebanyakan sekolah yang ada hanya bisa mengajarkan banyak hal untuk diketahui para siswanya...

Sementara sekolah tadi tidak mampu membangun kesadaran siswanya untuk mau melakukan apa yang dia ketahui itu sebagai bagian dari kehidupannya.

Sehingga anak-anak tumbuh hanya menjadi “Mahluk Knowing” hanya sekedar mengetahui bahwa zebra cross adalah tempat menyeberang, tempat sampah adalah untuk menaruh sampah tapi mereka tetap menyebrang dan membuang sampah sembarangan.

Sekolah semacam ini biasanya memiliki banyak sekali mata pelajaran yang diajarkan... hingga tak jarang membuat para siswanya stress dan mogok sekolah, segala macam di ajarkan dan banyak hal yang di ujikan...tetapi tak satupun dari siswa yang menerapkannya setelah ujian dilakukan.
Karena ujiannyapun hanya sekedar tahu...“Knowing”.

Di negara kami... sistem pendidikan benar-benar di arahkan untuk mencetak manusia-manusia yang tidak hanya tahu apa yang benar akan tetapi mereka juga mau melakukan apa yang benar sebagai bagian dari kehidupannya. 

Di negara kami anak-anak hanya di ajarkan 3 mata pelajaran pokok yakni Basic Sains, Basic Art dan Social yang dikembangkan melalui praktek langsung dan studi kasus v kejadian nyata diseputar kehidupan mereka. 

Mereka tidak hanya tahu, melainkan mereka juga mau menerapkan ilmu yang diketahuinya dalam keseharian kehidupan mereka.

Anak-anak ini juga tahu persis alasan mengapa mereka mau atau tidak mau melakukan sesuatu. 

Cara ini mulai di ajarkan pada anak sejak usia mereka masih sangat dini agar terbentuk sebuah kebiasaan yang kelak akan membentuk mereka menjadi mahluk “Being”. 

Yakni manusia-manusia yang melakukan apa yang mereka tahu benar.

Wow...! 

Betapa sekolah begitu memegang peran yang sangat penting bagi pembentukan prilaku dan mental anak-anak bangsa.

Betapa sebenarnya sekolah tidak hanya berfungsi sebagai lembaga sertifikasi yang hanya mampu memberi ijazah para anak bangsa. 

Kita mestinya lebih arahkan pendidikan untuk mencetak generasi yang tidak hanya sekedar tahu tentang hal-hal yang benar tapi jauh lebih penting untuk mencetak anak-anak yang mau melakukan apa-apa yang mereka ketahui itu benar....

Mencetak manusia-manusia yang “Being”.

Apakah tempat anak-anak kita bersekolah telah menerapkan sistem pendidikan dan kurikulum yang akan menjadikan anak-anak kita untuk menjadi mahluk “Being” atau hanya sekedar "Knowing".


(Sumber: WA SMA Project)

Senin, 29 Juni 2015 10:32

Alphabet Menuju Sukses

Written by

A : Accept (Menerima)
Terimalah diri Anda sebagaimana adanya.


B : Believe (Percaya)
Percayalah terhadap kemampuan Anda untuk meraih apa yang Anda inginkan dalam hidup.


C : Care (Peduli)
Pedulilah pada kemampuan Anda meraih apa yang Anda inginkan dalam hidup.

D : Direct (Langsung)
Arahkan pikiran pada hal-hal positif yang meningkatkan kepercayaan diri.

E : Earn (Menerima/Mendapatkan)
Terimalah penghargaan yang diberi orang lain dengan tetap berusaha menjadi yang terbaik.

F : Face (Hadapi)
Hadapi masalah dengan benar dan yakin.

G : Go (Pergi)
Berangkatlah dari kebenaran.

H : Homework (PR)
Pekerjaan rumah adalah langkah penting untuk pengumpulan informasi.

I : Ignore (Abaikan)
Abaikan celaan orang yang menghalangi jalan Anda mencapai tujuan.

J : Jealously (Kecemburuan)
Rasa iri dapat membuat Anda tidak menghargai kelebihan Anda sendiri, jadi hindarilah.

K : Keep (Menjaga)
Terus berusaha walaupun beberapa kali gagal.

L : Learn (Belajar)
Belajar dari kesalahan dan berusaha untuk tidak mengulanginya.

M : Mind (Pikiran)
Perhatikan urusan sendiri dan tidak menyebar gosip tentang orang lain.

N : Never (Jangan Pernah)
Jangan pernah putus asa.

O : Observe (Amati)
Amatilah segala hal di sekeliling Anda. Perhatikan, dengarkan, dan belajar dari orang lain.

P : Patience (Kesabaran)
Sabar adalah kekuatan tak ternilai yang membuat Anda terus berusaha.

Q : Question (Pertanyaan)
Pertanyaan perlu untuk mencari jawaban yang benar dan menambah ilmu.

R : Respect (Hargai/Hormati)
Hargai diri sendiri dan juga orang lain.

S : Self Confidence, Self Esteem / Self Respect (Percaya Diri, Penghargaan Diri)
Kepercayaan diri dan penghargaan atas diri sendiri membebaskan kita dari saat-saat tegang.

T : Take (Ambil)
Bertanggung jawab pada setiap tindakan Anda.

U : Understand (Memahami/Mengerti)
Pahami bahwa hidup itu selalu ada potensi untuk naik.

V : Value (Nilai)
Nilai diri sendiri dan orang lain, berusahalah melakukan yang terbaik.

W : Work (Kerja)
Bekerja dengan giat, jangan lupa berdoa.

X : X\'tra (Ekstra)
Usaha lebih keras membawa keberhasilan.

Y : You (Kamu)
Anda dapat membuat suatu yang berbeda.

Z : Zero (Nol)
Selalu ingat, usaha nol membawa hasil nol pula.

Senin, 08 Juni 2015 10:49

Ujian Kenaikan Kelas 2014/2015

Written by

 

 

 

Ujian Sekolah bukan hanya semata soal mengukur kemampuan kognitif ananda. 
Ujian Sekolah adalah salah satu sarana untuk menanamkan pada anak, bahwa Dalam hidup ini ada banyak sekali ujian yg akan kita hadapi. Mereka yang sukses melewati ujian dengan sukses dan cara yg baiklah, yg akan bertahan utk menuju tahapan tantangan hidup selanjutnya.
Ujian hakikatnya bukan hanya apa yg dihadapi oleh ananda, tp juga kita, orang tua yg utama, yaitu bapak dan ibu, juga guru, orang tua di sekolah. Apakah sebagai orang tua, kita telah mampu menyiapkan diri kita, utk senantiasa memotivasi, mendampingi, dan yg terpenting mendokan ananda.
Ujian adalah cinta. Sebesar cinta kita pada sang Rabb, sebesar itulah pengorbanan yg akan kita lakukan utk memberikan yg terbaik dg niat yg lurus dalam menghadapi ujian, termasuk ujian dalam menuntut ilmu.
Ujian adalah bukti cinta ananda utk orang tuanya. Kita percaya, dalam hati ananda selalu terbersit rasa ingin membahagiakan orang tua. Untuk itulah, kita harus mendukung dengan menciptakan suasana yg kondusif di rumah utk belajar.
Sukses ujian, adalah tidak hanya tentang nilai2 yg berjajar indah dalam raport ananda, tapi juga tentang bagaimana ia meraih nilai-nilai itu. Sudah selayaknya, kita tanamkan pada ananda bahwa hasil hanyalah salah satu indikator kesuksesan. Indikator yg lain, yakni kejujuran adalah lebih utama. Mari kita tànamkan kejujuran dalam diri ananda dalam menempuh ujian.
Pepatah bilang: Bagaikan ilmu padi. Makin berisi makin merunduk. Ia tak akan menjadi padi yg berisi tanpa campur tangan sang Rabb. Maka sudah semestinya kita tanamkan pada ananda, sekeras apapun kita berusaha, akan menjadi sia2 jika kita lupa memohon pertolongan dr Sang Maha penolong, Alloh Swt. 
Untuk itulah mari kita ajak ananda utk lebih mendekatkan diri pada Alloh Swt, memohon pertolongan-Nya.
Tak lupa, jika usai sudah ujian ananda dàn ternyata hasilnya memuaskan, mari kita ingatkan ananda utk menerapkan ilmu padi di atas. Tidak hanya utk menunduk "tidak sombong", tetapi juga menunduk untuk mengingat sang Rabb dg bersyukur.
Jika ada hal yg kurang memuaskan pd hasil ujian ananda, mari kita bertawakkal pada Alloh SWT, dan tidak lupa disertai muhasabah
Sekali lagi, ujian adalah tanda cinta: pada Allah SWT dan pada ananda.
Semangat UKK