Oleh: Farida Nur’ Aini*alt

Ayah Bunda, apa reaksi kita ketika anak kita yang tiba-tiba bilang dia suka kepada seseorang? Atau mungkin diberitahu dari gurunya bahwa dia sudah mulai suka pada lawan jenis? Marah? Mendiamkan saja atau justru menganggap wajar? Terus mengapa anak sekarang  makin dini mengenal pacaran? Sebabnya apa?

Yuk, kita bahas.

Seorang gadis kecil bertanya kepada gurunya,”Miss, boleh nggak sih kelas 3 pacaran?” kelas 3? Maksudnya kelas 3 SMP? Oh, tidak Bunda, yang bertanya itu anak kelas 3 SD! Yup, mungkin kita kaget dengan kondisi ini. Anak-anak yang kita anggap  masih kecil, manja, semua serba diladeni ternyata sudah mempunyai pikiran seperti itu. Ada apa dengan anak kita?

Ayah dan Bunda, anak kita hidup di jamannya. Sangat berbeda dengan jaman orangtuanya. Anak sekarang di’kepung’ oleh media yang sangat gencar memberikan tontonan tak layak untuk anak-anak. Sinetron televisi terutama. Kita lihat bagimana perilaku anak-anak sekolah di sinteron. Dari cara berpakaian dan tingkah laku banyak yang justru menggambarkan sikap negatif. Rok mini, guru yang sangat galak, rebutan pacar, juga kata-kata kasar. Pendidikan tentang percintaan juga ‘diajarkan’ lewat film kartun . Kata-kata cinta, kencan, pacar kerap jadi topic pembicaraan di film kartun yang menurut pihak televisi diperuntukkan anak-anak. Jika dibiarkan kondisi inilah yang merusak anak-anak kita. Apalagi jika anak sudah mengenal internet. MasyaAllah.. mereka sangat rentan dengan pornografi dan pornoaksi. Pembahasan pacaran era sekarang bukan lagi dimulai ketika anak menginjak SMA. Bahkan bagi sebagian sebagian orangtua pembicaraan mengenai pacar ini sudah begitu familiar di keluarga sejak anak masih kecil. Disebuah televisi swasta pernah ditayangkan  seorang ibu yang notabene artis tenar shooting bersama anak laki-lakinya yang masih TK. Dan sang ibu dengan tanpa bersalah bertanya kepada anaknya,”Kamu sudah punya pacar belum?” Anaknya yang masih berusia 5 tahun itu menjawab,”Sudah” Reaksi sang ibu? Justru tertawa. Kemudian melanjutkan bertanya,”Sama mama cantik mana?” Ya… Mungkin maksudnya bercanda. Tetapi candaan yang sangat keliru untuk pendidikan akhlaq sang anak.

Apakah kita akan larut dengan jaman yang seperti ini? Tentu tidak. Keluarga kita mempunyai pedoman pasti mengenai pendidikan anak yaitu sesuai dengan syariat Islam bahwa Allah melarang pacaran yang notabene sama dengan berduaan, pegangan tangan dan sebagainya. Kemudian bagiamana dengan perasaan cinta? Apakah anak-anak kita harus dilarang jatuh cinta? Wah, ya enggak dong Bunda. Sebentar… Perlu kita luruskan dulu sebenarnya apa yang terjadi pada anak-anak kita. Karena mereka belum bisa membedakan rasa suka, sayang atau cinta.

  1. Anak SD yang masih dibawah kelas 6 biasanya baru merasakan suka pada lawan jenis. Bukan sayang apalagi cinta. Mereka hanya suka melihat si dia, suka memperhatikan segala sesuatu yang ada pada si dia. Ya, suka saja. Dari kejauhan. Bagi anak-anak tertentu yang ‘pemberani’ rasa suka ini disalurkan dengan SMSan atau chat. Apa yang mereka bicarakan ketika chatting? Tidak ada hal serius. Paling hanya ‘ alo, gi ap?’ (bahasa alay, Bun..)  dan masalah sepele lainnya.  Karena ‘hanya’ rasa suka maka dengan mudah rasa itu beralih atau bahkan hilang hanya dalam waktu hitungan minggu. Bulan Januari suka sama si A, mungkin bulan Februari dia beralih menyukai si B. Atau, si dia ternyata juga disukai oleh temannya sendiri. Apa rekasinya? Biasa saja. Gak ada rasa cemburu. Bahkan ada dua anak putri, mereka bersahabat, dan mereka menyukai satu cowok. Persahabatan mereka tetap jalan. Lucu ya? Dan biasanya anak-anak SD tidak bisa menyembunyikan rasa sukanya. Sehingga siapa suka sama siapa akan menjadi rahasia umum antar mereka.  Merekapun akan terbuka dengan guru tertentu yang mereka sukai. Guru yang dekat dengan anak-anak. Kalau dengan orangtua? Wah, maaf tidak semua anak terbuka soal ini kepada orangtuanya. Terutama jika orangtuanya galak. Hehehe.. takut dimarahi! Karena bisa jadi orangua akan menganggap hal ini serius. Padahal mereka mengalami rasa suka ini ala anak-anak. Tidak ada tuntutan, apalagi persaingan.  Alasan apa yang membuat anak-anak menyukai lawan jenisnya? Hampir tidak ada alasan. Tetapi jika ditanya mereka akan menjawab sangat normatif. Tepatnya, mencari-cari.  Karena dia pintarlah, karena dia ibadahnya baguslah dan alasan klise lainnya. Hmm..
  2. Rasa sayang lebih meningkat daripada rasa suka. Beda tipis dengan rasa kagum.Rasa inilah yang mulai melanda generasi ababil. Burung ababil? Bukan,Bun. Itu istilah anak-anak sendiri yang menamai diri mereka sendiri. Singkatan dari Anak Baru Labil. Bukan lagi pakai istilah ABG. Kreatif ya? Rasa sayang ini mulai dirasakan anak-anak menjelang baligh. Dan, biasanya anak perempuan yang lebih cepat mengalami. Sehingga sekilas anak-anak perempuan justru terlihat lebih agresif dibandingkan anak laki-laki. Agresif bagaimana? Mereka duluan yang memuali chat, mereka duluan yang bilang, mereka duluan yang ngajak. Anak laki-laki pada masa ini biasanya yang semula pasif, lama kelamaan juga akan aktif. (lha dipancing terus..). terutama anak laki-laki yang secara pola pikir lebih dewasa dibandingkan teman-temannya. Pada masa ini mereka alasan mereka sayang terhadap lawan jenis lebih pada karena fisik. Karena cantik dan karena ganteng. Namun, ukuran cantik dan ganteng ini sangat relatif. Belum tentu cantik menurut A juga cantik menurut B. Masing-masing mempunyai standar dan selera sendiri. Pada masa ini anak-anak mulai bisa menyembunyikan perasaan mereka.  Jadi, hanya pada sahabatnya dan orang-orang tertentu dia akan terbuka. Karena sayang, dia akan bahagia kalau si dia bahagia. Dia juga sedih bila si dia mengalami hal yang menyedihkan. Pada sebagian anak, dia hanya bisa menyalurkan rasa sayang ini dari kejauhan. Lewat sms atau dunia maya. Namun pada anak tertentu  yang ‘berani’ mereka mulai ngajak ketemuan, atau main ke rumahnya. Inilah yang harus kita waspadai. Karena sangat mungkin merasa salah duga terhadap perasaanya, rasa sayang itu dikira rasa cinta. Kemudian dinyatakan sebagai rasa cinta. Pada masa ini,  ibarat lampu lalulintas, anak-anak berada di lampu kuning. Hati-hati…
  3. Rasa cinta. Ini akan dialami oleh anak-anak yang mulai merasakan debaran hati. Deg-degan tapi indah. Rasa cinta ini adalah peningkatan dari rasa sayang. Jika setiap hari mereka bertemu, setiap hari berinteraksi maka lama kelamaan rasa sayang ini akan menjadi perasaan cinta. “Mulanya biasa saja…” kata sebuah lagu tempo dulu. Dari biasa saja lama kelamaan menjadi luarbiasa. Rasa yang kuat. Rasa ini mulai melibatkan emosi. Bahkan saking kuatnya bisa merubah karakter seseorang. Yang semula ceria tiba-tiba jadi pemurung. Atau yang semula pendiam tiba-tiba berubah jadi periang. Mau makan ingat dia, mau belajar ingat dia… Bahkan saat sholatpun ingat dia. MasyaAllah… Segala sesuatu tentang dia menjadi sangat istimewa. Mulai dari nama sampai makanan yang dia sukai. Bila tidak ada yang mengarahkannnya, maka rasa cinta ini akan menjadi bumerang. Bisa melukai dirinya sendiri.

Ayah Bunda, setelah mengetahui dimana posisi anak-anak kita, maka selanjutnya adalah bagaimana menyikapnya. Memarahi jelas bukan solusi. Dibiarkan tentu justru membahayakan. Solusi terbaik? Jadilah sahabatnya. Sahabat yang oke diajak bicara, sahabat yang keren diajak curhat. (Bersambung)

Keterangan : artikel ini dimuat di majalah Al Abidin edisi 23 bulan April 2013

*Penulis adalah kepala sekolah SMA ABBS Surakarta