Bunda, aku jatuh cinta (bagian 2)

Oleh: Farida Nur ‘Aini, S.Sos.*

Ayah Bunda, kondisi anak sekarang berbeda dengan jaltaman kita dulu. Kata-kata cinta, pacaran adalah kata-kata yang sangat kita hindari ketika kita masih SD dulu. Malu mengatakannya. Namun kondisi sekarang sangat berbeda. Bahkan anak  SDpun sudah berani dan tanpa malu-malu mengatakan soal cinta dan pacaran. Si A suka dengan si B, si D pacaran sama si E.

Ada apa dengan anak-anak kita?

Ayah Bunda, anak kita sekarang dikepung arus informasi yang demikian deras. Dari televisi, dari internet dan dari temannya. Rasa ingin tahu mereka yang besar turut berperan dalam pertumbuhan psikologis mereka. Ya, anak-anak sekarang lebih cepat dewasa. Anak yang kita kira masih kecil, manja, ternyata sudah mengenal lawan jenis. Seorang ibu menceritakan kepada penulis betapa ia khawatir terhadap anak gadisnya yang sering chatting dengan lawan jenisnya di FB, padahal ia baru kelas 3 SD. Mau melarang takut anaknya menjadi kuper (kurang pergaulan), tapi jika tidak dilarang khawatir ia terjerumus ke pergaulan tidak  bebas. Ya, sangat bisa dimaklumi kekhawatiran ibu tersebut karena gaya pacaran anak sekarang tidak hanya bertamu  dan duduk manis di teras seperti jaman dulu. Tapi sudah berani memeluk, ciuman dan hal-hal lain yang menjurus kearah sex bahkan hubungan badan.

Mengerikan jika kita melihat fakta yang ada di sekitar kita tentang bebasnya pergaulan anak sekarang yang notabene dlakukan bersama pacarnya.  Pada UN tingkat SMP beberapa waktu yang lalu, beberapa siswi mengadakan UN dengan kondisi hamil. Bahkan di dareah Bojonegoro, seorang siswi SMP gagal menjalani UN karena terburu melahirkan.  Pacarnya adalah teman sekolahnya sendiri. Ada yang lebih menghebohkan lagi terjadi di sebuah kota di Jatim. Siswi  SMP hamil dan yang menghamilinya seorang pelajar SD. Na’udzubillah…tsumma nau’dzubillah. Semua akibat dari pacaran dan pergaulan bebas.

Alhamdulillah,anak kita berada di keluarga yang baik, sekolah yang baik. InsyaAllah anak-anak kita tidak sampai demikian bebas.

Namun Ayah Bunda, mencegah lebih baik daripada mengobati.  Kita harus tetap waspada karena anak kita juga bergaul dengan teman-temannya yang mungkin sudah ‘terkontaminasi’ pergaulan bebas.  Sejak kapan kita harus mulai pencegahan ini? Sejak anak kita mulai mengenal lawan jenis. Dari mana kita tahu bahwa anak kita mulai mengenal lawan jenis? Dari ceritanya, dari sikapnya dan dari gelagatnya. Ya, kita sebagai orangtua harus tahu persis perkembangan anak kita sendiri. Jangan sampai kita lengah, baru tahu ketik a ada masalah.

Point pentingnya , apa yang sebaiknya kita lakukan setelah tahu anak kita mulai mengenal lawan jenis?  Mengenal disini maksudnya mereka sudah tahu temennya yang cantik, yang ganteng, yang baik, yang perhatian, yang pinter, dan lain-lain sehingga ‘si dia’ mendapatkan perhatian khusus dari anak kita.

Pertama, bersikap wajar.

Santailah menghadapi anak yang mulai tertarik dengan lawan jenis. Namun jangan cuek. Fahamilah bahwa anak kita memang sudah sampai tahap mengenal lawan jenis. Jangan bandingkan dia dengan teman sebayanya karena memang perkembangan setiap anak berbeda. Jangan pula mencela atau menyetop pembicaraannya apalagi memvonis dan menyalahkan.  Jatuh cinta, menyukai lawan jenis adalah hal wajar. Menjadi pertanda anak kita normal. Jadi, bila anak kita mulai terlihat centil, maka segera beri perhatian lebih. Dia butuh teman yang asyik untuk diajak curhat soal perasaannya. Santai saja. Bila kita terlalu protektif, semua serba dilarang, anak justru makin melawan.

Kedua, jadilah pendengar yang baik.

Ketika dia bercerita tentang seseorang, maka dengarkan dengan penuh perhatian. Tataplah matanya, dan anggukkan kepala sesekali. Hadirkan senyum kita  menyertai ucapan-ucapan kita, ‘oya.. o, begitu.. masak sih?’ dan sebagainya. Semakin banyak dia bercerita, justru kita makin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan dia. Jadi, jaga suasana pembicaraan agar dia tetap nyaman menyampaikan semua yang dia alami dan rasakan.

Ketiga, jadilah teman terpercaya.

Bila dia sudah berceita, maka hargai cerita itu. Jangan jadikan bahan lelucon atau diceritakan kepada oranglain. Anak kita punya harga diri dan privacy. Sekali saja kita membuat lelucon ceritanya dihadapan oranglain, maka lunturlah kepercayaannya pada kita. Diapun akan malu bila masalahnya diceritakan kepada`oranglain.

Posisikan kita sebagai teman yang sangat mengerti apa yang ia rasakan. Jaga benar rahasia itu, kecuali pada ayahnya. Itupun bila diperlukan.

Keempat, berikan pendidikan sex sejak dini.

Beritahu anak sejak mereka balita, mana bagian tubuh yang boleh kelihatan oranglain. Mana yang tidak boleh. Mana yang boleh dipegang oranglain, mana yang tidak. Oranglain itu siapa saja, dan saudara itu siapa saja. Bila ananda mulai kelas 3 ajarkan tentang batas pergaulan laki-laki dan perempuan.  Mulai kelas 4 SD ajarkan tentang haid dan mimpi basah. Kelas 6 SD ke atas berikan pendidikan sex tentang proses kehamilan. Dan kitalah, sebagai orangtua yang harus memberikan pendidikan itu. Jangan sampai terjadi terulang sebuah kisah memilukan. Seorang siswi  SMP kelas 2 yang hamil diluar nikah bertanya kepada ibunya, “Ma, kalau aku besuk melahirkan lewat mana?”

Ayah bunda, tidak semua anak mudah bercerita kepada orangtuanya. Ya, itulah tantangan kita. Apabila anak kita termasuk jarang bicara, bagaimana cara kita mengetahui perkembangan pergaulannya?

  1. Tanyalah. Tentu saja cara bertanya kita bukan seperti menginterogasi. Cukup dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana, misalnya, “Kak, bener nggak sih teman sekelasmu ada yang suka sama anak perempuan?” ini sekedar pancingan saja untuk membuka percakapan selanjutnya. Buat suasana santai dan akrab, seperti dua orang sahabat.
  2. Ceritakan masa kecil kita ketika kita se-usia dengan dia saat ini.  Ini juga menjadi cara untuk memancing dia bercerita apa yang dia alami sekarang. Anak itu suka diceritakan. Apalagi cerita itu dialami sendiri oleh orangtuanya ketika dulu waktu orangtuanya seusia dengan dirinya. Ini menjadi hal menarik bagi anak.
  3. Teruslah memberi tanpa meminta imbal balik. Bila anak kita juga masih tertutup soal dirinya, maka jangan paksa. Teruslah beri perhatian dan kasihsayang. Karena yang terpenting bagi anak kita adalah hidup nyaman dan bahagia bersama orangtuanya. Percayalah, suatu saat anak kita`akan datang kepada kita dengan segenap harapan mendapatkan nasehat dan kehangatan pelukan kita,orangtuanya.

Yuk, jadi sahabat bagi anak kita. Jadikan dunia kita penuh keceriaan bersama tumbuh kembang mereka.

*Penulis adalah Kepala Sekolah SMA ABBS Surakarta sekaligus pengisi rubrik keluarga di Majalah Hadila.