Matahari telah menyengat. Namun rombongan anak-anak sangat bersemangat mengikuti sang guide mengelilingi kampung. Sesekali guide berhenti, menunjukkan proses yang sedang dilakukan warga. “Dari sinilah bahan baku keramik berasal. Disana itu ada Bapak-bapak yang sedang menggali tanah. Karena tiap hari diambil sehingga menjadi lubang yang dalam. Ketika musim hujan tiba, air menggenang, sehingga terbentuk kubangan yang menyerupai danau kecil” Pak Sumilih, sang guide menjelaskan dengan semangat.

Sepanjang perjalanan, hampir setiap rumah yang dilalui selalu ada aktifitas warga yang berhubungan dengan pengerjaan keramik. Ada yang mengolah tanah, menjemur keramik setengah jadi, menyiapkan membakar, serta menghias keramik. Tak heran karena desa itu menjadi desa wisata. “Ada 200 warga di desa Melikan ini yang bekerja membuat keramik” Pak Sumilih menjelaskan. Dan guna mengetahui lebih jauh tentang pembuatan keramik, pada hari Rabu (6/3) sebanyak 120 siswa level III SDII Al Abidin Surakarta mengunjungi sentra keramik di Desa Wisata Melikan, wedi, klaten.

Sebelum mengelilingi Desa Wisata Melikan, peserta diajak ke workshop pembuatan keramik. Di tempat tersebut sudah disiapkan keramik setengah jadi yang kemudian dihias berbagai motif oleh peserta. Ada yang membuah bunga, matahari, bintang dan sebagainya. Dengan antusias mereka menghias gerabah setengah jadi tersebut.setelah itu peserta berlatih membuat bentuk sederhana dari tanah liat. Tiap anak dibekali mal/cetakan. Ada yang berbentuk pesawat, boneka teddy bear, kura-kura, bunga, dan sebagainya. tanah liat yang sudah dipersiapkan, dimasukkan dengan cara ditekan pada mal/cetakan tersebut. Setelah jadi, kemudian dilepaskan. di akhir kegiatan, peserta diberi oleh-oleh berupa celengan tanah liat yang jadi.