• Twitter
  • Facebook
  • Google+
  • LinkedIn
  • Flickr
  • Vimeo
  • YouTube
  • RSS
Please select your page
Imam Samodra

Imam Samodra

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Puji dan syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayahNya. Sholawat dan salam semoga tercurah pada Rasulullah Muhammad SAW, sahabat, dan orang orang yang senantiasa istiqomah di jalannya.

Sebagaimana kita ketahui bahwa saudara seakidah kita Rohingya tengah menghadapi ujian berat yang mengakibatkan hampir 40.000 warganya mengungsi.

Oleh karena itu, Yayasan Al Abidin mengajak seluruh keluarga besar Yayasan Al Abidin untuk :

1. Mensyukuri nikmat keberagaman dan kerukunan yang ada di Indonesia,

2. Memberikan dukungan setiap kebijakan Pemerintah terkait krisis kemanusian ini

3. Membantu masyarakat Rohingya dengan cara mendonasikan sebagian harta kita. Ayah/bunda bisa menyalurkan melalui Lazis Al Abidin, dengan cara :

a. Memasukkan pada kotak donasi yang ada di tiap-tiap unit

b. Transfer melalui rekening berikut ;
• BSM norek 7123451117 Lazis Al Abidin
• Muamalat norek 5210071358 an. Purno Budi Antoro qq Lazis Al Abidin
[Mohon konfirmasi via wa ke 0856 4191 5115]

c. Waktu pengumpulan donasi mulai 6 - 9 Sept 2017.

Demikian atas perhatian dan kemurahan hatinya kami sampaikan syukron jzk.

Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

 

 

 

 

Senin, 04 September 2017 11:27

Selamat Hari Raya Idul Adha 1438 H

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Berkurban pada hakikatnya adalah bentuk pengabdian dan kepasrahan seorang hamba dalam melaksanakan perintah Allah SWT. Qurban tidak hanya gerakan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Namun kurban sebenarnya memiliki hakikat yang lebih luas sebagai gerakan pemerataan kesejahteraan sosial masyarakat.

Keluarga Besar Yayasan Al Abidin Surakarta dalam hal ini turut ambil bagian. Semoga upaya ini senantiasa mendapatkan ridlo Allah SWT

Selamat Hari Raya Idul Adha 1438 H

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

 

 

 

Senin, 04 September 2017 11:24

Brotherhood : Indahnya Kebersamaan

Di ufuk timur matahari bersinar dengan cerah. Awan putih nampak berderet rapi menghiasi langit biru. Cuaca yang bersahabat pagi ini (30/8) menambah semangat ratusan siswa-siswi dengan kostum beraneka warna untuk menuju ke aula lantai 2 kampus 3 SD Islam Internasional (SDII) Al Abidin Surakarta. Mereka adalah siswa-siswi International Class Program (ICP) SDII Al Abidin, SMP Islam Al Abidin dan SMA ABBS Surakarta.

Brotherhood Performance Program adalah kegiatan yang telah mereka ikuti hari ini. Kegiatan ini merupakan pentas aksi persahabatan dari tiga jenjang/unit sekolah yang berada di bawah naungan yayasan Al Abidin Surakarta. Beberapa aksi seru yang ditampilkan oleh para siswa yaitu English drama, poem and song. Selain itu, juga ada tari tradisional, simulasi science hingga sulap. Mereka terlihat dengan leluasa dapat mengekspresikan bakat dan minatnya.

Koordinator acara, Muhamad Thoriq, S.Pd. dalam sambutannya menuturkan bahwa “Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mempererat tali persaudaran ICP antar unit juga meningkatkan kemampuan komunikatif English siswa”. Aurel (8) menyampaikan bahwa dia sangat bahagia dapat tampil di depan teman-teman juga kakak kelasnya. Kemudian, Lutfi Istiqomah, ST, salah satu guru yang membersamai siswa berharap acara ini dapat meningkatkan kepercayaan diri siswa kedepannya terutama dalam pembiasaan berkomunikasi dengan Bahasa Inggris.

Sementara itu Nabila, siswa SDII Al Abidin yang mengikuti kegiatan tersebut mengaku senang karena bisa mengenal kakak kelasnya di SMPI Al Abidin dan SMA ABBS. “Kakak-Kakak SMPI Al Abidin dan SMA ABBS keren banget. Tampilannya tadi bagus. Ngomong bahasa inggrisnya juga cas cis cus. Aku pengin kaya kakak-kakak itu”, ujarnya saat dimintai pendapat tentang acara ini.

 

 

 

Senin, 04 September 2017 11:10

Upacara HUT Kemerdekaan Republik Indonesia

Pagi itu matahari belum naik terlalu tinggi. Suasana pun masih cukup dingin. Namun satu persatu siswa berseragam merah putih, berduyun-duyun menuju lapangan rumput hijau di taman kebanggaan warga solo, Balekambang. Wajah mereka berseri-seri, apalagi saat bertemu teman sekelasnya. Sesekali terdengar arahan dari guru melalui pengeras suara agar siswa yang baru datang segera merapat membentuk barisan. Sedikit-demi sedikit barisan mulai terbentuk rapi, terpisah antara barisan putra dan putri. Disamping mereka, kakak kelas berbaju putih biru, dan putih abu-abu juga berjajar rapi. Pagi itu tanggal 17 Agustus 2017, mereka akan segera mengikuti upacara hari kemerdekaan Repubik Indonesia yang ke 72 Tahun. Berbeda dengan tahun sebelumnya, upacara tahun ini sangat special karena semua unit menjadi satu dan diadakan di public space.

Tepat pukul tujuh, upacara dimulai. Dengan khidmad tahapan demi tahapan upacara dilalui. Pembina upacara menyampaikan amanah upacara dengan lantang. Pekik merdeka menggema. Semua bersemangat. Tergambar jelas rasa nasionalisme peserta upacara.

Usai upacara HUT RI 72, berbagai perlombaan khas kemerdekaan sudah menanti. Ratusan Siswa SMA ABBS Surakarta mengikuti 3 perlombaan yaitu lomba membuat sandwich, bola voli, dan lomba makan kerepuk. Dengan bersemangat mereka mengikuti lomba ini. meski sebagian masih kaku karena tidak pernah bersentuhan dengan alat-aat dapur, namun teman sekelompoknya bersedia saling membantu.

Hal ini menjadi kekompakan team makin terlihat. Sontak, keriuhan terjadi di are taman kota ini. tepat jam 11.00 acara berakhir. Semua pulang dengan wajah ceria, meskipun peluh membasahi.

Dirgahayu Republic Indonesia ke 72. Jayalah negeriku, Indonesia kerja bersama.

 

Link Video Pelaksanaan bisa dilihat : http://bit.ly/UpacaraKemerdekaan dan http://bit.ly/LombaKeren17an

 

 

 

 

 

 

 

Jumat, 25 Agustus 2017 10:12

Sukses itu Susah

Saya punya pengalaman,yaitu mantan siswa SMA (sebut saja namanya Lintang) yang mana sekarang sudah menjadi mahasiswi mengeluh. Dari SD hingga lulus SMA, Ia selalu juara. Namun kini, di program S-1, ia begitu kesulitan menghadapi dosen yang meremehkan kemampuannya. Judul skripsinya selalu ditolak tanpa alasan yang jelas. Kalau jadwal bertemu dibatalkan sepihak oleh dosen hanya gara-gara sang dosen tersebut mengambil rapor cucunya, ia sulit menerimanya. Asal tahu saja bahwa Lintang ini dari kecil tidak pernah mendapatkan kesulitan sedikitpun, orang tuanya senantiasa memanjakan dengan selalu memberi kemudahan terhadap semua kebutuhannya.

Maka walau sekarang Lintang sudah mahasiswa, tidak bisa dan tidak berani naik sepeda motor. Ke sekolah selalu diantar ibunya. Jangankan cuci baju dan setrika, bahkan makanpun masih harus disuapin. Sementara itu, temantemannya sekarang yang cepat selesai dikatakan, jago mencari celah dan kesempatan. Ia menduga, teman-temannya yang tak sepintar dirinya itu bermain tidak adil dengan dosen-dosennya. “Karena mereka tak sepintar aku,” ujarnya.

Banyak orang tua yang belum menyadari, di balik nilai-nilai tinggi yang dicapai anak-anaknya semasa sekolah, mereka menyandang persoalan besar kesombongan dan ketidakmampuan menghadapi kesulitan. Bila hal ini saja tak bisa diatasi, maka masa depan ekonominya pun akan sulit. Mungkin inilah yang perlu dilakukan orang tua dan kaum muda belajar menghadapi realitas dunia orang dewasa, yaitu kesulitan dan rintangan. Psikolog Stanford University, Carol Dweck, dalam buku The New Psychology of Success, menulis, “Hadiah terpenting dan terindah dari orang tua pada anak-anaknya adalah tantangan”.

Ya, tantangan.

Apakah itu kesulitan-kesulitan hidup, rasa frustrasi dalam memecahkan masalah, sampai kegagalan “membuka pintu”, jatuh bangun di usia muda. Ini berbeda dengan pandangan banyak orang tua yang cepatcepat ingin mengambil masalah yang dihadapi anak-anaknya. Kesulitan belajar mereka biasanya diatasi dengan mendatangkan guru-guru les, atau bahkan menyuap sekolah dan guru-gurunya. Bahkan, tak sedikit pejabat atau orang kaya mengambil alih tanggung jawab anak-anaknya ketika menghadapi proses hokum karena kelalaian mereka di jalan raya.

Sebagai orang dewasa kesalahan anak-anak memang membuat kita galau. Masalah mereka memang masalah kita juga, tapi bukan milik mereka. Termasuk di dalamnya adalah rasa bangga orang tua yang berlebihan ketika anak-anaknya mengalami kemudahan dalam belajar dibandingkan rekan-rekannya di sekolah. Berkebalikan dengan pujian yang dibanggabanggakan, Dweck malah menganjurkan orang tua untuk mengucapkan kalimat seperti ini: “Maafkan Ibu ya Nak, yang tidak membuat segala sesuatu menjadi mudah untukmu. Soal ini kurang menarik, bagaimana kalau kita coba yang lebih menantang?” Jadi, dari kecil, saran Dweck, anak-anak harus dibiasakan dibesarkan dalam alam yang menantang, bukan asal gampang atau digampangkan.

Pujian boleh untuk menyemangati, bukan membuatnya selalu mudah. Saya teringat masa-masa mudadan kanak-kanak saya yang hampir setiap saat menghadapi kesulitan dan tantangan. Kata seorang motivator sukses bahwa “saya ini termasuk bengal”. Namun ibu saya bilang, saya kreatif. Kakak kakak saya bilang saya bandel.


Namun, otak saya bilang “selalu ada jalan keluar dari setiap kesulitan”. Begitu memasuki dunia dewasa, seorang anak akan melihat dunia yang jauh berbeda dengan masa kanakkanak. Dunia orang dewasa, sejatinya, banyak keanehannya. Hal gampang bisa dibuat menjadi sulit. Namun, otak saya selalu ingin membalikkannya. Demikianlah, hal-hal sepele sering dibuat orang menjadi masalah besar. Banyak ilmuwan pintar, tetapi reaktif dan cepat tersinggung. Demikian pula kalau orang sudah senang, apapun yang kita inginkan selalu bisa diberikan. Panggung orang dewasa dunia orang dewasa itu adalah sebuah panggung besar dengan unfair treatment yang menyakitkan bagi mereka yang dibesarkan dalam kemudahan dan alam yang protektif.


Kemudahan-kemudahan yang didapat pada usia muda akan hilang begitu seseorang tamat SMA. Di dunia kerja, keadaan yang lebih menyakitkan akan mungkin lebih banyak lagi ditemui. Fakta-fakta akan sangat mudah Anda temui bahwa tak semua orang, yang secara akademis hebat, mampu menjadi pejabat atau CEO. Jawabannya hanya satu, hidup seperti ini sungguh menantang.

Tantangan-tantangan itu tak boleh membuat seseorang cepat menyerah atau secara defensif menyatakan para pemenang itu “bodoh”, tidak logis, tidak mengerti, dan lain sebagainya. Berkata bahwa hanya kitalah orang yang pintar, yang paling mengerti, hanyalah akan menunjukkan ketidakberdayaan kita belaka. Dan pernyataan ini hanya keluar dari orang pintar yang miskin perspektif, dan kurang menghadapi ujian yang sesungguhnya. Dalam banyak kesempatan, kita menyaksikan banyak orang-orang pintar menjadi tampak bodoh Karena ia memang bodoh mengelola kesulitan. Ia hanya pandai berkelit, bersungut-sungut karena kini tak ada lagi orang dewasa yang mengambil alih kesulitan yang ia hadapi.


Seorang dosen sekaligus motivator menceriterakan pengalamannya dalam membentuk mahasiswa mahasiswinya agar berani menghadapi tantangan, dengan cara satu orang pergi ke satu negara tanpa ditemani satu orang pun agar berani menghadapi kesulitan, kesasar, ketinggalan pesawat, atau kehabisan uang. Namun lagi-lagi orang tuanya sering mengintervensi mereka dengan mencarikan travel agent, memberikan paket tour, uang jajan dalam jumlah besar, menitipkan perjalanan pada teman di luar negeri, menyediakan penginapan yang aman, dan lain sebagainya.

Padahal, anak-anak itu hanya butuh satu kesempatan yaitu bagaimana menghadapi kesulitan dengan caranya sendiri. Hidup yang indah adalah hidup dalam alam sebenarnya, yaitu alam yang penuh tantangan. Dan inilah esensi perekonomian abad ke-21 bergejolak, ketidakpastian, dan membuat manusia menghadapi ambiguitas.


Namun, dalam kondisi seperti itulah sesungguhnya manusia berpikir. Dan ketika kita berpikir keras dan kreatif, maka tampaklah pintu-pintu baru itu terbuka, saat pintu-pintu hafalan kita tutup. Jadi inilah yang mengakibatkan banyak sekali orang pintar sulit dalam menghadapi masalah. Maka dari itu, pesan Carol Dweck, dari apa yang saya renungi, sebenarnya sederhana saja orang tua, jangan cepatcepat merampas kesulitan yang dihadapi anak-anakmu. Sebaliknya, berilah mereka kesempatan untuk menghadapi tantangan dan kesulitan. Ketika anak-anak kita bersekolah dan sedang kegiatan kemah atau outbound maka biarkan mereka mendapatkan tantangannya sebagai bagian dari pembelajarannya.


Jangànlah dikit-dikit tengok, dikit-dikit ditelepon, selalu ditanya keadaannya, dan sebagainya. Yang dengan demikian mereka akan menjadi lemah, manja, dan tidak mampu menyelesaikan tantangannya. Hingga ketika dewasa hanya akan menjadi pecundang. Sekali lagi menjadi orang tua yang bijak memang tidak mudah tetapi harus dapat diusahakan demi kesuksesan anak-anak kita. Marilah kita bekali anakanak kita dengan kecerdasan adversity yaitu kecerdasan anak untuk mengatasi masalah yang dihadapinya. Di samping kecerdasan-kecerdasan yang lain, maka sesungguhnya kecerdasa ini justru memiliki kontribusi yang sangat besar dalam penyiapan kesuksesan masa depan anak-anak kita.


Semoga menginspirasi.

Oleh: Drs. Sunarno, M.Pd ( Ketua Yayasan Al-Abidin Surakarta )

 

 

 

Selasa, 22 Agustus 2017 09:26

Waktu yang tepat melarang anak

Ayah bunda, pola asuh yang kita terapkan sangatlah berpengaruh pada aklaq atau karakter anak. Melarang dan membiarkan anak haruskah kita berlakulan di saat yang tepat. Tidak terlalu kaku dan juga tidak terlalu longgar.

Jika anak terlalu sering dilarang maka akibatnya anak akan terhambat pola berpikirnya, perkembangan motorik halus maupun motorik kasarnya. Anak dilarang berlari, dilarang bermain hujan, dilarang menggunting, dilarang memanjat pohon, anak remaja dilarang pergi bersama temannya, dan sebagainya. Anak membutuhkan berbagai pengalaman untuk bekal ketrampilan menghadapi hidup. Jika terlalu sering dilarang anak akan kesulitan menghadapi berbagai masalah dalam hidupnya kelak.

Demikian juga jika anak terlalu dibebaskan. Dia akan tumbuh semaunya. Asing dengan aturan- aturan yang akhirnya dia kesulitan menyesuaikan diri dengan ketertiban dan kedisiplinan.

Maka, laranglah anak di saat yang tepat, bun. Ada 3 ranah yang menjadikan alasan bagi kita untuk melarang anak, yaitu jika anak :
1. Melanggar aturan agama
2. Melanggar sopan santun
3. Membahayakan diri dan oranglain

Misal anak kita berlari di lantai yang licin. Jelas itu berbahaya. Maka harus kita stop segera. Jika anak berlari di tempat yang aman, adakah alasan kita melarangnya? Soal jatuh itu biasa. Anak akan belajar hati- hati ke depannya. Anak jangan terlalu kita lindungi agar dia merasakan ketidakenakan di dunia ini sebagai bekal pengalaman ke depannya lebih baik lagi.

Bagaimana dengan bermain hape? Game online kekerasan, misalnya. Jelas itu berbahaya untuk otak dan perkembangan mentalnya. Maka larang anak bermain hape. Jika ia pegang hape untuk kepentingan positip maka berilah kelonggaran. Tarik ulurnya harus pas.

Ayah bunda, melarang dan membiarkan anak itu ada aturan mainnya. Maka mari kita terapkan aturan dalam keluarga kita. Mana yang boleh dan mana yang tidak agar mereka berkembang sesuai dengan kebutuhannya.

Kepala Sekolah SDII Al Abidin : Bunda Farida

 

 

 

Senin, 31 Juli 2017 08:40

Perbaikilah Anakmu dengan Ibadah

Orang yang selalu menjaga Allah ketika masih muda dan kuat, Allah akan selalu menjaganya ketika sudah tua dan lemah. Allah akan menjaga pendengarannya, penglihatannya, kekuatannya dan akalnya.

Dahulu ada sebagian ulama yang usianya melebihi 100 tahun tapi ia masih kuat badannya dan sehat akalnya. Ketika ditanya rahasianya ia menjawab, "Badan ini dulu ketika masih mudah aku selalu menjaganya dari perbuatan maksiat. Maka sekarang Allah menjaganya ketika aku sudah tua."

Sebaliknya, dulu ada orang yang ketika muda mengabaikan kewajiban-kewajibannya terhadap Allah, maka Allah pun menjadikannya lemah di usia tua dan akhirnya ia menjadi pengemis.

Adakalanya Allah menjaga orang yang shalih sampai keturunannya, sebagaimana firman Allah, "Dahulu ayah kedua anak ini adalah seorang lelaki yang shalih." Maksudnya, kedua anak itu dijaga oleh Allah karena keshalihan ayah mereka dahulu.

Dulu, Said bin Al Musayyib mengatakan kepada anaknya, "Nak, aku akan menambah jumlah rakaat shalat sunnahku dengan harapan agar Allah menjagamu."

Umar bin Abdul Aziz mengatakan, "Setiap orang beriman yang meninggal dunia, pasti Allah selalu menjaga keturunannya."

Ibnul Munkadir mengatakan, "Sungguh Allah akan menjaga orang yang shalih sampai kepada anaknya, cucunya dan lingkungan sekitarnya. Mereka selalu berada dalam lindungan dan penjagaan Allah."

Semoga Allah selalu menjaga kita dan menjadikan kita serta keturunan kita orang-orang yang shalih. Aamiin.

 

Sumber: "Jamiul Ulum wal Hikam" karya Ibnu Rojab Al Hambali.

 

 

 

 

Senin, 31 Juli 2017 08:34

Mengantar Anak Ke Sekolah

Buat Para Ayah..... Jangan lewatkan masa mengantar anak sekolah karena itulah masa romantis bersama anakmu

Tidak sedikit ayah yang punya waktu luang namun menganggap ringan masa mengantar anak sekolah padahal disitulah masa romantis bersama anak

Kita bisa ngobrol dalam perjalanan dengan anak melingkarkan tangannya di perut kita, anak mendekap kita tidak ada jarak, kita bisa ngobrol layaknya teman

Sesampai di sekolah kita, di tempat tunas2 bangsa akan tumbuh, akan ada momen romantis berpisah melepas anak yang akan masuk ke kelas, anak mencium tangan kita, kita mencium pipi dan kepala anak, anak balas mencium kita, kita bisa memperbaiki tasnya, jilbabnya yang miring, kita bisa tos dulu.. bisa bercanda sebentar...

Hati ayah siapa yang tidak haru saat melepas anak masuk ke kelas, meski mengantar setiap hari rasa haru itu pun selalu menyeruak di hati saat melepas anak mau memasuki kelas.

Tidak hanya ayah anak pun merasakan hal sama ayah, anak merasa haru diantar anak, merasa berat ditinggal ayah, akan terlihat di mata anak rasa tidak ingin ditinggalkan oleh ayah, sehingga setelah cium tangan kita, dia akan dada dengan kita..."dada..." percayalah anak merasakan hal sama

Saya pun menikmati saat melihat anak berjalan melangkahkan kaki mungilnya menuju kelas. Saya pandangi dari belakang sambil berdoa di hati "Ya Allah jadikanlah anakku anak yang shalih dan berikan dia ilmu yang manfaat", akan ada rasa haru lagi yang menyeruak di hati, anakku sudah besar ya... saya pandangi sampai anakku hilang dari pandangan karena masuk kelas atau terhalang oleh ramainya keceriaan anak2 yang mau masuk kelas.

Untuk para ayah jangan lewatkan masa romantis dengan anak, saat mengantar anak sekolah, sempatkan waktu meski seminggu sekali meski sebulan sekali, karena banyak ayah yang ingin merasakan masa romantis bersama anak namun terkendala waktu yang tidak memungkinkan, sampai ada yang sangking pinginnya mengambil cuti demi pingin mengantar anak sekolah. Karena mereka paham benar saat anak besar, momen itu tak akan pernah terulang lagi.

* Foto tadi pagi di sekolah anak melihat keromantisan ayah dan anak yang lain, saya tidak kenal mereka dan tidak tahu latar belakang mereka

*Terinspirasi dari status pak Didik Darmanto

 

 

 

 

 

Sabtu, 29 Juli 2017 08:00

ANAK BERBOHONG, SEBAB DAN AKIBATNYA

Ayah bunda, mempunyai anak-anak yang jujur sangatlah menentramkan hati. Kita bisa tahu dengan baik apa yang sebenarnya terjadi dari cerita anak kita. Bagaimana kemudian jika ternyata ada anak kita yang berkata bohong. Mengapa anak berbohong? Mari kita cermati beberapa alasan anak berbohong berikut ini :

1. Berbohong karena mendapat contoh.
Pasti kita akan mengelak jika ditanya apakah kita mengajari anak berbohong. Namun terkadang kita melakukan kebohongan tanpa kita sadari karena kita anggap itu kebohongan kecil. Perlu kita fahami bahwa bohong versi anak adalah antara tidak sesuainya perkataan dan perbuatan. Hal yang real, nyata.
Misalnya, anak minta sepatu baru. Kemudian kita bilang "besuk" atau " kapan-kapan" karena kita sibuk. Namun jika tak juga ada realisasinya maka anak akan mudah mengambil pelajaran bahwa kita sudah berbohong.

2. Berbohong karena takut dihukum.
Pola asuh yang kekerasan, baik kekerasan fisik maupun psikis akan mengakibatkan anak takut berkata jujur. Karena takut dihukum maka ia mengambil sikap berbohong.
Kekerasan fisik misalnya jika anak melakukan kesalahan maka anak dipukul, dicubit, dijewer dan perlakuan kekerasan fisik lainnya. Sedangkan kekerasan psikis misalnya dengan ancaman. "Awas, kalau kamu bikin adik nangis lagi kamu dihukum ibu". Bisa juga merendahkan dan membandingkannya.

3. Berbohong karena ingin lepas dari tanggungjawab.
Setiap perbuatan pasti menimbulkan akibat. Jika anak memecahkan gelas maka ia harus bertanggungjawab. Karena tidak mau menanggung resiko maka ia mengambil jalan pintas. Berbohong. Anak ditanya ada PR atau tidak, karena tidak mau bersusah payah mengerjakan PR dia berkelit dan mengatakan tidak ada PR.

 

4. Bohong karena kepercayaan yang kebablasan.

Semua yang dikatakan anak kita langsung percaya begitu saja, tanpa kita cek kebenarannya. Tidak ada tabayyun. Hal demikian membuat anak di atas angin. Akhirnya dia akan mengatakan apa yang nyaman untuknya. Toh orangtua juga bakal percaya saja.

5. Berbohong karena ingin dipuji.
Semua anak senang pujian. Pada anak yang jarang dipuji maka ia akan mencari- cari alasan agar mendapat pujian. Misal guru mengecek sholat yang dilakukan anak di dirumah. Karena ingin dipuji dia mengatakan sudah tertib walau sebenarnya sholatnya masih bolong. Anak belum tuntas puasa syawal tapi demi mendapatkan pujian gurunya dia berbohong.

Ayah bunda, cegah sedini mungkin anak berbohong. Bohong adalah awal kehancuran karakter anak, sedikit demi sedikit. Karena kebohongan satu akan melahirkan kebohongan kedua dan seterusnya. Berbohong kecil akan merambah ke kebohongan yang besar. Semoga kita terhindar dari yang demikian. Aamiin.

Kepala Sekolah SDII Al Abidin :
Bunda Farida

 

 

 

 

Halaman 2 dari 28